Kamis, 03 Maret 2016

Persamaan ‘Ali r.a dan Mu’awiyah r.a (2) : “Keduanya sama-sama berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah.”

Sesungguhnya salah satu ciri khusus yang sangat jelas terlihat dari sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa mereka semuanya sama-sama berpegang teguh kepada sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk dalam hal ini adalah 2 (dua) sahabat Nabi yang sedang kita bicarakan di sini, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhu. Sungguh, kita akan mendapat contoh yang banyak tentang hal ini di dalam berbagai riwayat yang shahih.

Kali ini, insya Allah, kita akan melihat sebagian riwayat yang menunjukan bahwa baik ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, maupun Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhu, maka keduanya senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Adapun tentang ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, maka berikut –diantaranya- 2 (dua) riwayat yang menunjukan hal tersebut….

Senin, 29 Februari 2016

Persamaan ‘Ali r.a dan Mu’awiyah r.a (1) : “Keduanya termasuk yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah.”

Salah satu hal yang menjadi keyakinan Ahlus-Sunnah adalah bahwa orang-orang yang paling utama diantara umat ini sesudah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sahabat-sahabat Nabi. Tingkat pertama keutamaan ini adalah 4 khalifah, yakni Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum ajma'in. Kemudian, baru sahabat-sahabat Nabi yang lain selain beliau berempat. Sehingga, dikatakan bahwa selain dari 3 khalifah di atas, maka ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu jelas lebih utama dibandingkan sahabat-sahabat Nabi yang lain, termasuk dari Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu.
 
Namun, kali ini, kita tidak akan membahas tentang lebihnya keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu dibandingkan dengan Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu, akan tetapi yang akan kita bahas di sini adalah tentang beberapa persamaan diantara beliau berdua. Persamaan dalam kebaikan yang disebabkan karena beliau berdua memang memiliki guru yang sama, diajar dan dididik oleh guru yang sama, yakni oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Senin, 23 Maret 2015

Biografi Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu 'anhu (5) : Wafatnya Abu Bakar ash-Shidiq dan Jaminan Surga untuk beliau

Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anhu wafat pada bulan Jumadil Ula tahun ke-13 Hijriah, yakni sewaktu beliau masih menjadi Khalifah kaum muslimin, dikarenakan sakit. Beliau wafat pada usia yang sama dengan usia wafatnya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yakni pada usia 63 tahun(1)

Beliau lalu dikuburkan disamping kuburnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan sampai hari ini kita masih bisa menyaksikan kubur beliau yang berdampingan bersama kuburnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh benarlah ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anhu yang pernah mengatakan :
كنت أكثر أسمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول جئت أنا وأبو بكر وعمر ودخلت أنا وأبو بكر وعمر وخرجت أنا وأبو بكر وعمر
 “Seringkali aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku datang dengan Abu Bakar dan ‘Umar. Aku masuk dengan Abu Bakar dan ‘Umar. Aku keluar dengan Abu Bakar dan ‘Umar.”
(Shahih Muslim no.2389)

Biografi Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu 'anhu (4) : Penghormatan Rasulullah, Ahlul-Bait dan Sahabat-sahabat Nabi yang Lain Kepada Abu Bakar ash-Shidiq

Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anhu adalah salah seorang sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang mulia, terhormat dan memiliki kedudukan yang tinggi di mata Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau, baik dari kalangan Ahlul-Bait, maupun yang bukan Ahlul-Bait. Beberapa hadits dan atsar di bawah ini cukup untuk menunjukan kepada kita tentang betapa tinggi dan mulianya penilaian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau terhadap diri Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anhu.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda tentang Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anhu :
إن أمن الناس علي في ماله وصحبته أبو بكر ولو كنت متخذا خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا ولكن إخوة الإسلام
“Sesungguhnya orang yang paling setia kepadaku baik dalam hartanya maupun persahabatannya adalah Abu Bakar. Kalau saja aku boleh mengangkat seorang khalil (kekasih), niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi dia adalah saudara di dalam Islam.”
(Shahih Muslim no.2382)

Biografi Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu 'anhu (3) : Semangat Abu Bakar ash-Shidiq dalam Beribadah Kepada Allah

Sebagaimana sahabat-sahabat Nabi lainnya pada umumnya, maka Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anhu-pun dikenal tekun dan bersemangat dalam melaksanakan ibadah kepada Allah. Beliau adalah orang yang rajin shalat, sering shaum, berjihad, bersedekah, menjamu tamu, dan juga mengamalkan berbagai ibadah-ibadah lainnya sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah. Pendeknya, tidaklah ada satupun kebaikan yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya melainkan beliau akan bersegera untuk dapat melaksanakannya.

Salah satu riwayat yang menarik yang menggambarkan tentang betapa bersemangatnya Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan ibadah kepada Allah adalah sebagaimana disebutkan oleh Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. 
Beliau mengatakan bahwa suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada sahabat2 beliau :
من أصبح منكم اليوم صائما ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه أنا قال فمن تبع منكم اليوم جنازة قال أبو بكر رضي الله عنه انا قال فمن أطعم منكم اليوم مسكينا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه أنا قال فمن عاد منكم اليوم مريضا قال أبو بكر رضي الله عنه أنا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ما اجتمعن في أمريء إلا دخل الجنة

Biografi Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu 'anhu (2) : Ke-Islam-an Abu Bakar ash-Shidiq

Ketika pertama kali seruan Islam itu dikumandangkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di kota Mekkah, maka Abu Bakar ash-Shidiq adalah orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan orang-orang dewasa. Sejak saat itu, beliau tidak pernah meragukan kebenaran dakwah dan ajaran yang disampaikan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau senantiasa menemani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam menyebarkan agama yang mulia ini, mendukung perjuangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan diri dan harta beliau, serta ikut membela Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari gangguan orang-orang musyrik.

Semua perisitiwa di awal-awal Islam itu digambarkan oleh beberapa sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataan mereka, diantaranya :

1. ‘Ammar bin Yasir radhiyallaahu ‘anhu mengatakan :
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّا خَمْسَةُ أَعْبُدٍ وَامْرَأَتَانِ وَأَبُو بَكْرٍ
“Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam (yakni pada masa awal2 Islam) dan tidak ada yang bersama beliau kecuali, 5 orang budak, 2 orang wanita, dan Abu Bakar.”
(Shahih Al-Bukhari 3/56 no.3857)

Biografi Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu 'anhu (1) : Nama dan Nasab beliau

Beliau adalah ‘Abdullah bin Abi Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amru bin Ka’b bin Sa’d bin Taimi bin Murrah bin Ka’b bin Lu-ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.(1)

Beliau memiliki hubungan kerabat dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena beliau memiliki jalur nasab yang sama dengan nasabnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Nasabnya Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu ini bertemu dengan nasab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Murrah bin Ka’b bin Lu-ay.(2)

Usia beliau kurang lebih 2 tahun lebih muda dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan selain sebagai kerabat dekat, maka Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu sekaligus juga adalah mertua Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam karena putri beliau yakni ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha dinikahi oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. 


Kamis, 06 November 2014

Apakah engkau mengenal Muhammad ?

Apakah engkau mengenal Muhammad ?

Jika engkau mengenalnya, maka alhamdulillah.
Tapi jika tidak, maka mulai sekarang, berusahalah untuk mengenalnya.
Tidakkah engkau ingin agar dapat mencintai Muhammad ?(1)
Tapi, bagaimana mungkin seseorang itu akan mencintai sesuatu yang tidak dia kenali?
Janganlah engkau mau kalah oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani dahulu yang dikatakan bahwa mereka mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri.(2)

Apakah engkau mengenal Muhammad ?

Muhammad yang lahir di Mekah, yang namanya engkau sebut setiap hari setidaknya 9 kali dalam shalatmu, dan engkau katakan dalam tasyahud : “Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah.”(3)
Apakah engkau mengenalnya?

Selasa, 04 Februari 2014

Beginilah Ulama2 Salaf Menjaga Shalat Berjama'ah

Merupakan satu hal yang menarik untuk mengetahui seperti apa yang diriwayatkan dari beberapa ulama salaf rahimahumullah mengenai komitmen beliau semua, mengenai pandangan beliau semua dan mengenai sikap beliau semua dalam menjaga shalat berjama’ah ini.

So, untuk mengetahuinya lebih jauh, maka berikut beberapa riwayat dari ulama2 salaf yang berkenaan dengan hal ini, diantaranya :
 


1. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, salah seorang sahabat besar, pernah berkata :
لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة إلا منافق قد علم نفاقه أو مريض إن كان المريض ليمشي بين رجلين حتى يأتي الصلاة  
“Sungguh dahulu kami melihat bahwa tidak ada seorangpun yang tertinggal shalat berjama’ah melainkan seseorang yang jelas kemunafikannya dan sungguh dahulu seorang laki2 datang menghadiri shalat berjama’ah dengan dipapah oleh dua orang laki2 lainnya sehingga ia diberdirikan di dalam shaf.”
(Shahih Muslim 1/435 no.654)
 
Beliau radhiyallaahu 'anhu juga berkata : 

Senin, 17 Desember 2012

Usia Pernikahan 'Aisyah radhiyallaahu 'anha

Salah satu isu yang seringkali diangkat oleh sebagian orang untuk diperdebatkan, baik di dunia maya maupun di dunia nyata, adalah mengenai peristiwa pernikahan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan istri tercinta beliau Ummul Mu’minin ‘Aisyah binti Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anha, padahal sebenarnya masalah ini -bisa dikatakan- bukanlah merupakan satu hal yang diperdebatkan di kalangan para ulama terdahulu.

Bahkan bisa dibilang pula bahwa para ulama shalih terdahulu, baik dari kalangan ulama2 Hadits, ulama2 Fiqih, dan ulama2 Sirah sepakat dan satu kata dalam masalah ini  (sebagaimana -insya Allah- nanti akan kita lihat), kecuali hanya perbedaan2 yang sedikit saja yang sama sekali tidak berpengaruh pada pokoknya.
Insya Allah, kali ini kita juga akan sedikit membahasnya di sini.