Rabu, 11 Mei 2016

Lebay dan alay-nya orang-orang Syi'ah (1)

Ah, lebay dan alay sebenarnya dua kata yang kurang tepat untuk disematkan kepada orang-orang Syi'ah, sebab dalam banyak sekali hal, apa yang diyakini dan dilakukan oleh orang-orang Syi'ah dalam berbagai ajaran mereka jauh lebih buruk, lebih rusak, lebih menjijikan daripada sekedar dikatakan lebay ataupun alay. Tapi, okelah, untuk sementara, dalam tulisan ini, kita pakai saja kata lebay dan alay untuk kita sematkan kepada orang-orang Syi'ah.

Tenang....tenang, saya tidak mengatakan kalimat di atas hanya berdasarkan asumsi saya pribadi, tapi saya akan memberikan beberapa contoh sebagai bukti. Misalnya, seperti beberapa hal di bawah ini :

1. Kata orang Syi'ah, Fathimah adalah wujud yang bersifat malaikat, Maha Kuasa, dan Ilahiyah, yang dinyatakan dalam bentuk seorang manusia yang diam di bumi ini. (Sungguh, ini benar2 gila)

Sabtu, 07 November 2015

Saat Imam ke-12 Syi’ah dibunuh oleh seorang “banci”, apakah akan ada imam yang baru lagi bagi orang-orang Syi’ah?

Salah seorang ulama besar Syi’ah bernama ‘Ali al-Yazdi al-Hairi mengabarkan :
فإذا تمت السبعون السنة أتى الحجة الموت فتقتله امرأة من بني تميم اسمها سعيدة ولها لحية كلحية الرجل
“Apabila telah berlalu masa 70 tahun, maka kematian akan datang kepada al-Hujjah (imam Mahdi-nya Syi’ah). Dia akan dibunuh oleh seorang wanita dari Bani Tamim yang bernama Sa’idah. Wanita ini memiliki jangut sebagaimana jangutnya laki-laki.”
(Ilzamun-Nashib fi Itsbatil-Hujjah al-Ghaib 2/167)

Kitab di atas bisa dibaca di perpustakaan online-nya Syi’ah di http://www.narjes-library.com/2012/02/blog-post_3216.html. Klik pada juz ke-2 dan lihat pada halaman 167.
Atau bisa juga dibaca di http://alhawzaonline.com/almaktaba-almakroaa/book/238-aqa'ed/0105-alzam-naceb-fi-athbat/02/05.htm#01, dan lihat pada halaman 146.

Senin, 05 Oktober 2015

Syi’ah yang bodoh dan membodohi Syi’ah2 bodoh lainnya

Mungkin banyak dari kita yang sudah mengetahui perkataan busuk seorang ulama Syi'ah yang bernama Al-Jazairy yang mengatakan bahwa dia tidak mengakui Rabb dan Nabi yang diakui oleh Ahlus-Sunnah, dan menegaskan bahwa Rabb dan Nabi-nya Ahlus-Sunnah itu berbeda dengan Rabb dan Nabi-nya orang2 Syi'ah.
Perkataan busuk tersebut selengkapnya adalah seperti berikut :
إنا لم نجتمع معهم على إله ولا على نبي ولا على إمام وذلك أنهم يقولون إن ربهم هو الذي كان محمد صلى الله عليه وآله نبيه وخليفته بعده أبو بكر ونحن لا نقول بهذا الرب ولا بذلك النبي بل نقول إن الرب الذي خليفة نبيه أبو بكر ليس ربنا ولا ذلك النبي نبينا
“Sesungguhnya kami (Syi’ah) tidak akan bersepakat dengan mereka (Ahlus-Sunnah) tentang ilah, tidak pula tentang Nabi, dan tidak pula tentang Imam. Hal itu karena Ahlus-Sunnah mengatakan bahwa Rabb mereka adalah Rabb yang Muhammad adalah nabi-Nya dan Khalifah sesudahnya adalah Abu Bakar. Sedangkan kami tidak akan berkata dengan Rabb yang seperti ini, tidak pula dengan Nabi yang seperti ini. Bahkan kami katakan : “Sesungguhnya Rabb yang khalifah Nabi-Nya adalah Abu Bakar bukanlah Rabb kami, dan Nabi seperti itu bukanlah Nabi kami.”
(Al-Anwar An-Nu’maniyah 2/278)

Kutipan ini diantaranya dapat kita baca di sini atau di sini dan di sini, dan juga yang lainnya. Perhatikanlah, bahwa kutipan perkataan ulama Syi’ah itu disebutkan berasal dari kitab Al-Anwarul-Nu’maniyah juz 2 halaman 278.
Namun lucunya, terkait kutipan dari perkataan busuk dari Al-Jazairy ini, ada segelintir orang2 Syi’ah yang dengan kebodohannya malah mencoba mengingkarinya dan menyebut kutipan tersebut sebagai fitnah. 

Jumat, 14 Agustus 2015

[Konyol] Ulama Syi'ah mengungkapkan Misteri Pembangunan Piramida Mesir

Salah satu misteri besar yang selalu menjadi bahan pengkajian para ilmuwan di dunia sejak dulu sampai sekarang adalah tentang bagaimana caranya piramida-piramida Mesir dibangun. Ya, telah banyak sekali ilmuwan dari berbagai bidang disiplin ilmu yang mencoba mengungkapkan rahasia pembangunan bangunan-bangunan megah yang kokoh tersebut. Mereka mengemukakan berbagai teori, melakukan riset, studi bahkan percobaan-percobaan ilmiah yang diharapkan bisa mengungkapkan rahasia besar pembangunan Piramida, meskipun mungkin belum ada satupun hasil yang bisa dikatakan sampai pada tingkat yang memuaskan.

Rabu, 29 April 2015

Raj’ah, Aqidah Busuk Syi’ah Imamiyah Rafidhah (2)

Agar tidak kehilangan alur dari pembahasan ini.....silahkan untuk membaca dulu pembahasan sebelumnya :

Selanjutnya......

Kedua : Siapa saja orang mu’min yang akan dihidupkan kembali di dunia pada hari Raj’ah ini?

Diantaranya adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi lainnya. Kemudian juga ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu dan imam2 Ahlul-Bait lainnya.

Al-Majlisi meriwayatkan sebuah dongeng:
ان رسول الله (صلى الله عليه وآله) وعلياً سيرجعان.
“Sesungguhnya Rasulullah dan ‘Ali akan kembali (ke dunia ini).”
(Biharul-Anwar 53/39)

Raj’ah, Aqidah Busuk Syi’ah Imamiyah Rafidhah (1)


Bagi yang mengetahui Syi’ah dengan rinci, niscaya dia akan mengetahui berbagai keyakinan2 rusak, busuk, menjijikan sekaligus konyol yang ada di dalam Syi’ah, dan salah satu diantara keyakinan2 yang rusak, busuk, dan menjijikan sekaligus konyol di dalam ajaran orang2 Syi’ah itu adalah ar-Raj’ah.

Salah seorang ulama Rafidhah, yakni Al-Mufid mengatakan:
اتفقت الإمامية على وجوب رجعة كثير من الأموات
“Syi’ah imamiyiah telah sepakat akan wajibnya raj’ah dari sebagian besar umat.”
(Awailul-Maqalat hal.51)

Ya, raj’ah ini adalah salah satu keyakinan Syi’ah imamiyah rafidhah yang disepakati oleh ulama2 besar mereka. ‘Aqidah raj’ah ini adalah salah satu ‘aqidah yang busuk, menjijikan sekaligus konyol sebab :

Sabtu, 18 Januari 2014

Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallaahu 'anhu bukan seorang munafik - Bantahan untuk Rafidhah (4)

Orang Rafidhah itu menanggapi lagi :
Bagi orang yang tidak berakal maka akan mudah untuk mengatakan bahwa jika ada sekelompok orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian ada seseorang yang dikatakan termasuk kelompok tersebut maka hal itu tidak menunjukkan apa-apa. Ya silakan kami tidak perlu menunjukkan kerendahan kualitas anda karena dengan berkomentar seperti itu anda sudah menunjukkan kerendahan diri anda...........
......................
Seperti yang kami katakan jika Abu Musa dituduh sebagai munafik oleh Huzaifah maka seyogianya untuk membebaskan tuduhannya ya harus dengan bukti riwayat selain dari riwayat Abu Musa. Dan begitu pula jika memang Abu Musa termasuk dalam dua belas ahlul aqabah musuh Allah dan Rasul-Nya maka riwayat dirinya juga tertolak. 
Orang Rafidhah ini -disebabkan kekusutan cara berpikirnya- terus saja mengungkit-ungkit peristiwa 'Aqabah....Padahal, orang yang akalnya lurus, maka dia akan mengkaji semua riwayat yang ada lalu mengambil kesimpulan yang tepat dari semuanya. Sedangkan orang yang akalnya bengkok -seperti orang Rafidhah ini-, maka hanya kebingungan, kekonyolan dan kekeraskepalaan yang dia dapat.

Pertama :

Jumat, 10 Januari 2014

Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallaahu 'anhu bukan seorang munafik - Bantahan untuk Rafidhah (3)

Dalam masalah do’a Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Musa radhiyallaahu ‘anhu : “Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais dan masukkanlah ia di hari kiamat nanti di tempat yang mulia”, dan tentang diterimanya kesaksian seseorang yang dituduh munafik, orang Rafidhah itu mengatakan :
Kemudian nashibiy yang dimaksud membawakan hadis keutamaan Abu Musa Al Asy’ariy yang diriwayatkannya sendiri dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakannya. Dalam sebuah riwayat panjang dari Abu Musa, ia berkata :
Maka aku [Abu Musa] berkata “wahai Rasulullah mohonkanlah ampun untukku”. Maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais dan masukkanlah ia di hari kiamat nanti di tempat yang mulia” [Shahih Muslim 4/1943 no 2498].
Seperti yang pernah kami bahas sebelumnya, ini adalah riwayat Abu Musa Al Asy’ariy sendiri. Kami katakan tidak kuat sebagai hujjah karena jika memang Abu Musa adalah seorang munafik seperti yang dikatakan Hudzaifah maka riwayatnya tertolak, bukankah salah satu ciri munafik adalah tidak segan-segan berdusta dalam perkataannya.
Tanggapannya ini malah menunjukan bahwa orang Rafidhah itu memang tidak bisa berpikir dengan cara yang benar, dan yang dia bisa hanya berusaha menyambung-nyambungkan sesuatu yang sebenarnya tidak nyambung. Konyol sekali jika hanya karena dituduh, maka orang Rafidhah itu menganggap otomatis segala shifat munafik langsung melekat pada orang yang dituduh.

Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallaahu 'anhu bukan seorang munafik - Bantahan untuk Rafidhah (2)

Tentang tulisan di blog ini Abu Musa Al-Asyari radhiyallaahu 'anhu bukan seorang munafik (bantahan untuk Rafidhah), ternyata ditanggapi oleh orang Rafidhah tersebut.
Langsung saja, di sini kita akan berikan sedikit tanggapan balik untuknya....

Orang Rafidhah itu mengatakan :
Jika ia tidak keberatan menuduh kami sebagai orang Syi’ah maka harusnya ia tidak keberatan pula jika ia dikatakan nashibiy.
Ooowh….silahkan…..sangat dipersilahkan sekali.
Saya tidak heran koq, coz memang seperti itulah menurut qaidah Syi’ah Rafidhah seperti anda bahwa siapapun yang menentang Syi’ah Rafidhah, akan dianggap sebagai Nashibi, siapapun orangnya.

Orang Rafidhah itu lalu mengatakan :

Rabu, 08 Januari 2014

Ulama Syi'ah Terdahulu Menghina Abu Bakar dan 'Umar radhiyallaahu 'anhuma

Benarkah?
Tentu saja benar.
Berikut beberapa buktinya....

Pertama :
Ulama Syi’ah mengatakan bahwa dua mertua Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yakni Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu dan ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu adalah 2 berhala, dan mereka juga menyebutnya sebagai Al-Latta dan Al-Uzza sebagaimana nama 2 berhala Quraisy yang disembah di zaman Jahiliyah. 
Na’uudzubillah tsumma na’uudzubillah.

Ash-Shaduq pernah meriwayatkan tentang Al-Mahdi versi Syi’ah :
فإذا دخل المدينة أخرج اللات والعزى فأحرقهما
“Apabila ia masuk ke Madinah, maka ia akan mengeluarkan Al-Latta dan Al-‘Uzza dan akan membakar keduanya.” (Kamaluddin wa tamamul-ni’mah hal 352 riwayat no.2)

Lalu, Al-Majlisi menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan Al-Latta dan Al-‘Uzza ini dengan perkataannya :
يعني باللات والعزى صنمي قريش أبا بكر وعمر
“Yang dimaksud dengan al-Latta dan Al-‘Uzza dan dua berhala Quraisiy ini adalah Abu Bakar dan ‘Umar.” (Biharul-Anwar 52/283)

Kamis, 05 September 2013

Antara 'Aqidah Jahmiyah dan 'Aqidah "oknum" Aswaja

Al-Hafizh Abul-Qasim Al-Ashbahani rahimahullah mengatakan :
و قال حماد بن زيد مثل الجهمية مثل رجل قيل له فِي دارك نخلة ؟ قَالَ : نعم. قيل : فلها خوص ؟ قَالَ : لا. قيل : فلها سعف ؟ قَالَ : لا.
قيل : فلها كرب ؟ قَالَ : لا. قيل : فلها جذع ؟ قَالَ : لا.
قيل فلها أصل ؟ قَالَ : لا. قيل : فلا نخلة فِي دارك ،
هؤلاء الجهمية قيل لهم : لكم رب يتكلم. قالوا : لا.
قيل : فله يد. قالوا : لا. قيل : فيرضى ويغضب ؟ قالوا : لا.
قيل : فلا رب لكم
“Hammad bin Zaid rahimahullah mengatakan : “Permisalan orang Jahmiyah adalah seperti seorang laki2 yang ditanya : “Apakah di daerahmu ada pohon kurma?”
Dia menjawab : “Ya.”
Ditanyakan kepadanya: “Apakah pohon kurma itu memiliki daun?”
Dia menjawab : “Tidak.”
Ditanyakan lagi kepadanya : “Apakah ia memilki pelepah?”
Dia menjawab : “Tidak.”
Ditanyakan lagi kepadanya : “Apakah ia memiliki buah dan tandan?”
Dia menjawab : “Tidak.”
Ditanyakan lagi kepadanya : “Apakah pohon kurma itu memiliki batang?”
Dia menjawab : “Tidak.”
Maka dikatakan kepadanya  : “Sebenarnya, di daerahmu itu tidak ada pohon kurma.”

Selasa, 23 Juli 2013

'Aqidah Jahmiyyah : "Allah tidak dapat dilihat di akhirat."

 Satu perbedaan pokok lainnya diantara ulama2 Ahlus-Sunnah dan orang2 Jahmiyyah yang dahulu menjadi ciri yang kontras untuk membedakan diantara keduanya, yakni dalam masalah melihat Allah kelak di hari kiamat.
Adapun orang2 Jahmiyyah, maka mereka meyakini hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan dan diyakini oleh para ulama Ahlus-Sunnah.
Orang2 Jahmiyyah itu mengingkari masalah dapat dilihatnya Allah nanti diakhirat.

Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan :
قال وكيع من كذب بحديث إسماعيل عن قيس عن جرير عن النبي صلى الله عليه وسلم في الرؤية فهو جهمي فاحذروه
“Waki’ rahimahullah mengatakan : “Barangsiapa yang mendustakan hadits Isma’il dari Qais dari Jarir radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan masalah melihat Allah, maka ia adalah seorang Jahmiy.”
(Khalq Af’al al-‘ibad war-Radd ‘alal-Jahmiyyah wa Ashabit-Ta’thil hal.11)

'Aqidah Jahmiyyah : "Allah tidak ada di atas 'Arsy"


 Ada satu perbedaan pokok diantara ulama2 Ahlus-Sunnah dan orang2 Jahmiyyah yang dahulu menjadi ciri yang kontras untuk membedakan diantara keduanya, yakni dalam masalah keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya.
Adapun orang2 Jahmiyyah, maka mereka meyakini hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan dan diyakini oleh para ulama Ahlus-Sunnah.
Orang2 Jahmiyyah itu mengatakan bahwa Allah itu tidak ada di atas langit, tidak ada di atas ‘Arsy-Nya.


‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah menjelaskan tentang keyakinan orang2 Jahmiyyah :
 إن الجهمية أرادوا أن ينفوا أن يكون الله كلم موسى وأن يكون على العرش
“Sesungguhnya orang2 Jahmiyyah bermaksud untuk menafikan bahwa Allah telah berbicara dengan Nabi Musa ‘alaihissalaam dan mereka juga mengingkari adanya Allah di atas ‘Arsy.”
(Al-‘Uluw hal.159)

Senin, 17 Desember 2012

Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallaahu 'anhu bukan seorang munafik (bantahan untuk Rafidhah)

Ada seorang Syi'ah di http://secondprince.wordpress.com/2011/06/28/apakah-abu-musa-al-asy%E2%80%99ari-seorang-munafik/  yang menuliskan sesuatu dengan style bertanya :
"Apakah Abu Musa Al Asy’ari Seorang Munafik?"
Lalu dia membawakan beberapa atsar diantaranya :

حَدَّثَنِي ابن نمير حدثني أبي عن الأعمش عن شقيق قَال كنا مع حذيفة جلوسًا ، فدخل عبد الله وأبو موسى المسجد فقَال أحدهما منافق ثم قَال إن أشبه الناس هديًا ودلاً وسمتًا برسول الله صلى الله عليه وسلم عبد الله

Telah menceritakan kepadaku Ibnu Numair yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Al A’masy dari Syaqiiq yang berkata kami duduk bersama Hudzaifah kemudian masuklah Abdullah dan Abu Musa kedalam masjid, Hudzaifah berkata “salah satu dari mereka berdua adalah munafik” kemudian ia berkata “orang yang menyerupai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam hal petunjuk, ciri dan gerak geriknya adalah Abdullah” [Ma’rifat Wal Tarikh Yaqub Al Fasawiy 2/771]
Sampai akhirnya dia kemudian berkata :
"Tentu saja hal ini menjadi dilema yang sangat meresahkan. Kalau Abu Musa Al Asy’ari dinyatakan sebagai munafik maka bagaimana nasib hadis-hadis yang diriwayatkannya padahal cukup banyak hadis-hadisnya yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Mungkinkah Huzaifah keliru? atau mungkin lebih aman menolak hadis Huzaifah yang satu ini daripada menolak berbagai hadis Abu Musa yang tersebar dalam kitab Shahih."

Setelah membaca tulisan orang Syi'ah ini (dan tulisan2 dia lainnya), saya pribadi hanya bisa tersenyum lucu...
Ya, tersenyum lucu karena tidak dulu, tidak sekarang, karakter orang Syi'ah memang selaluu saja seperti itu, tidak pernah berubah. Selalu dan selalu menjadikan para sahabat radhiyallaahu 'anhum sebagai "incaran" syubhat utama mereka.
Ada yang menebarkan syubhat secara kasar dan terang2an, namun tidak sedikit pula yang secara halus dan malu2. Namun, baik yang kasar maupun halus dan malu2, intinya sama saja, tidak ada bedanya.