Rabu, 07 September 2016

Kabut gelap Muktamar Chechnya

Beberapa hari belakangan ini, dunia Islam diramaikan dengan berita tentang Muktamar Chechnya yang dihadiri oleh sebagian ulama yang menisbatkan dirinya kepada Ahlus-Sunnah, yang datang dari berbagai belahan dunia Islam. Salah satu poin yang dihasilkan dari muktamar ini adalah : "Ahlus sunnah wal-jama'ah mereka adalah Asy'ariyyah dan Maturidiyyah dalam masalah aqidah, madzhab yang empat dalam masalah fiqh dan tasawwuf murni dalam masalah ilmu, akhlaq dan tazkiyah"

Oke, sebelum saya lanjutkan tulisan ini, saya ingin katakan dari awal bahwa saya bukanlah seorang Asy'ariyyah dan bukan pula seorang Maturidiyyah, dan saya pribadi merasa tidak terlalu peduli jika tidak dianggap sebagai seorang Ahlus-Sunnah oleh kalangan
Asy'ariyyah dan Maturidiyyah

Kamis, 03 Maret 2016

Persamaan ‘Ali r.a dan Mu’awiyah r.a (2) : “Keduanya sama-sama berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah.”

Sesungguhnya salah satu ciri khusus yang sangat jelas terlihat dari sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah bahwa mereka semuanya sama-sama berpegang teguh kepada sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk dalam hal ini adalah 2 (dua) sahabat Nabi yang sedang kita bicarakan di sini, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhu. Sungguh, kita akan mendapat contoh yang banyak tentang hal ini di dalam berbagai riwayat yang shahih.

Kali ini, insya Allah, kita akan melihat sebagian riwayat yang menunjukan bahwa baik ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, maupun Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallaahu ‘anhu, maka keduanya senantiasa berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai permasalahan yang sedang mereka hadapi.

Adapun tentang ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, maka berikut –diantaranya- 2 (dua) riwayat yang menunjukan hal tersebut….

Senin, 29 Februari 2016

Persamaan ‘Ali r.a dan Mu’awiyah r.a (1) : “Keduanya termasuk yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah.”

Salah satu hal yang menjadi keyakinan Ahlus-Sunnah adalah bahwa orang-orang yang paling utama diantara umat ini sesudah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah sahabat-sahabat Nabi. Tingkat pertama keutamaan ini adalah 4 khalifah, yakni Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum ajma'in. Kemudian, baru sahabat-sahabat Nabi yang lain selain beliau berempat. Sehingga, dikatakan bahwa selain dari 3 khalifah di atas, maka ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu jelas lebih utama dibandingkan sahabat-sahabat Nabi yang lain, termasuk dari Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu.
 
Namun, kali ini, kita tidak akan membahas tentang lebihnya keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu dibandingkan dengan Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu, akan tetapi yang akan kita bahas di sini adalah tentang beberapa persamaan diantara beliau berdua. Persamaan dalam kebaikan yang disebabkan karena beliau berdua memang memiliki guru yang sama, diajar dan dididik oleh guru yang sama, yakni oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Senin, 28 September 2015

Selamat tinggal Hanabilah, Hanafiyah dan Malikiyah, dan selamat tinggal Ulama2 Salaf


Siang tadi, saya membaca satu berita mengejutkan yang datang dari Aceh, suatu daerah yang dikenal dengan julukan Serambi Mekah. Berita yang terkait dengan adanya suatu acara yang disebut dengan “Parade Aswaja” yang diadakan sekitar 2 pekan yang lalu oleh sebagian kaum Muslimin di Aceh sana. 

Adapun yang mengejutkan saya bukanlah tentang acaranya, bukan pula tentang siapa yang mengadakannya, akan tetapi yang mengejutkan adalah tentang satu dari 13 tuntutan yang diajukan oleh mereka dalam acara tersebut.

Salah satu isi tuntutan yang sangat luar biasa aneh tersebut adalah :
“Meminta kepada Pemerintahan Aceh untuk mencabut izin operasional dan tidak memberikan izin pendirian sekolah dan lembaga pendidikan Islam lainnya di Aceh yang bertentangan dengan madzhab Syafi’i dan bertentangan dengan ‘Aqidah ahlus-sunnah wal-jamaah (Asy’ariyyah dan Matudiriyyah).”

Senin, 21 September 2015

Sifat Surga dan Penghuninya (2) : Bangunan2 di surga yang terbuat dari emas, perak, permata dan mutiara

Betapa banyak rumah di dunia ini yang dibangun dari bahan2 yang sangat bagus, dengan harga yang sangat mahal yang menjadikannya terlihat indah dan mewah dalam pandangan manusia, sehingga manusiapun berangan-angan agar mereka dapat memiliki rumah seperti itu.
Tapi, ketahuilah saudaraku, bahwa semua keindahan dan kemewahan itu sama sekali tidak ada apa2nya dibandingkan dengan rumah atau bangunan yang telah Allah janjikan di surga-Nya untuk orang2 yang mau beriman kepada-Nya dan mau melakukan amal2 shalih sewaktu hidup di dunia ini.

Sesungguhnya, di dalam surga itu ada bangunan2 yang terbuat dari emas dan perak….
Imam Ahmad rahimahullah telah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
بناء الجنة لبنة من ذهب ولبنة من فضة
“Bangunan surga itu, batu batanya terbuat dari emas dan perak.”
(Musnad Ahmad 2/362 no.8732. Syaikh Syu’aib rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini : “Shahih.”)

Kamis, 17 September 2015

Sifat Surga dan Penghuninya (1) : Di dalam surga tidak terasa panas dan juga tidak dingin

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di dalam Al-Quran :
لاَيَرَوْنَ فِيهَا شَمْسًا وَلاَزَمْهَرِيرًا
“Di dalam surga itu, mereka tidak merasakan (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang menyengat.”
(Q.S Al-Insan ayat 13)

Sesungguhnya bagi manusia, saat mereka hidup di dunia, panas yang menyengat ditubuhnya akan menjadikannya susah. Begitupula hawa dingin yang amat sangat, hal itupun akan menjadikannya susah. Maka Allah hilangkan kedua hal tersebut di dalam surga-Nya. Dengan demikian, penduduk surga akan merasa sangat nyaman tinggal di dalam surga, dan tidak akan pernah lagi mereka merasakan panas dan dingin yang menyengat yang akan menyusahkan mereka.
Segala puji bagi Allah.

Rabu, 14 Januari 2015

Head To Head Ahlus Sunnah vs Syi’ah (1) : Apakah boleh menyebut Amirul-Mu’minin (pemimpin orang2 yang beriman) untuk orang selain ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anhu?

Syi’ah mengatakan :
Tidak boleh menggelari orang selain ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu dengan sebutan Amirul-Mu’minin (bahkan mereka meriwayatkan tentang kafirnya orang yang menggelari Amirul-Mu’minin selain ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu).

Bobroknya ‘Aqidah dan ajaran mereka telah menjadikan mereka buta dan ghuluw terhadap salah seorang diantara khalifah2 kaum muslimin, dan menjadikan sebutan Amirul-Mu’minin itu hanya khusus bagi ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Kemudian dengan konyolnya mereka mencela, dan bahkan menyatakan riwayat tentang kafirnya orang yang menyebut orang selain ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anhu dengan sebutan Amirul-Muminin.

Ibnu Syahr mengatakan dalam kitab Manaqib-nya :
ولم يجوز أصحابنا أن يُطلق هذا اللفظ لغيره من الأئمة عليهم السلام
“Sahabat2 kami tidak membolehkan untuk memutlakan gelar ini kepada orang selain ‘Ali, meskipun ia adalah dari kalangan imam2 ‘alaihissalaam.”

Rabu, 03 September 2014

Isu tentang tajsim dan mujasimah (3)

Perhatikanlah ta'rif2 orang2 Mu'tazilah, Jahmiyah, Syi'ah dan selainnya tentang jism dalam tulisan sebelumnya pada bagian kedua Isu tentang tajsim dan mujasimah (2) .
Atas hal itu, niscaya kita akan tahu bahwa tidaklah mereka menetapkan suatu pengertian tentang jism melainkan berdasarkan apa yang mereka lihat ada pada makhluk.
Dan konsekuensi dari pengertian2 buatan mereka ini adalah bahwa bagi ahlul-bid'ah ini, orang2 yang meyakini kalau Allah dapat dilihat di akhirat adalah mujasimah...
Orang2 yang meyakini kalau Allah itu memiliki tangan adalah mujasimah....
Orang2 yang meyakini kalau Allah itu memiliki wajah adalah mujasimah......
Dan sebagainya. 

Celakanya, pengertian2 ala ahlul-bid'ah seperti inilah yang kemudian dipegang oleh sebagian orang di zaman sekarang, sehingga tidak heran jika kemudian isu tentang tajsim dan mujasimah ini kembali muncul di masa sekarang.
Ya, sebagian orang di masa sekarang telah menganggap dan menuduh kalau orang2 yang meyakini Allah itu memiliki tangan, wajah, dan beberapa shifat lainnya, sebagai mujasimah, sedangkan tidaklah anggapan dan tuduhan bathil mereka ini kecuali karena disebabkan mereka memegang ta'rif2 rusak ala Jahmiyah, Mu'tazilah dan sebagainya tentang jism.

Jika suatu saat engkau bertemu dengan orang2 yang seperti ini, katakan padanya : "Apakah kekuasaan, pengetahuan dan hidup itu jism?"
Apabila dia menjawab : "Ya, semuanya adalah jism."
Maka katakan kepadanya : "Sesungguhnya engkau meyakini kalau Allah itu hidup, memiliki pengetahuan dan memiliki kekuasaan, maka seharusnya itu berarti menurutmu Allah itu adalah jism."

Isu tentang tajsim dan mujasimah (2)

3. Jism menurut orang2 Jahmiyah, Mu’tazilah, dan kalangan Ahlul-Bid’ah pengingkar shifat2 Allah lainnya

Adapun ahlul-bid’ah di masa ulama2 salaf itu hidup, maka mereka memiliki ta’rif2 dan pemahaman tentang jism yang mereka tetapkan sendiri berdasarkan akal2 mereka, diantaranya adalah sebagai berikut…..

a. Sesuatu yang memiliki jarak, maka itu adalah jism

Hal ini dikemukakan oleh orang2 Jahmiyah sehingga mereka mengatakan :
غير بائن باعتزال ولا بفرجة بينه وبين خلقه كجسم على جسم
“Sesungguhnya Allah….antara Dia dengan makhluk-Nya tidaklah terpisah dengan menyendiri dan tidak pula terpisah dengan jarak seperti jism atas jism.”
(Ar-Radd ‘alal-Basyir al-Marisyi hal. 79)

Menurut mereka, jika saja diantara dua hal itu terdapat jarak, maka pastilah keduanya adalah jism. Dengan ini mereka menetapkan bahwa Allah itu tidaklah terpisah dengan makhluk-Nya.
Dan ini menjadi salah satu alasan mereka untuk menafikan adanya Allah di atas ‘Arsy.

Isu tentang tajsim dan mujasimah (1)

1. Pendahuluan

Salah satu hal yang ajaib di masa sekarang, adalah apabila anda berkata : “Allah memiliki dua tangan” atau : “Allah memiliki wajah”, atau : “Allah ada di atas.”, atau : “Allah bisa dilihat dengan mata kepala kelak di akhirat.” dan perkataan2 yang semisal saat menetapkan shifat2 Allah sebagaimana Allah dan Rasul-Nya tetapkan sendiri di dalam Al-Quran dan Sunnah yang shahih, maka tidak lama kemudian sebagian orang akan menggelari anda dengan sebutan : “Mujasimah", yakni anda akan dianggap telah menjismkan Allah, sebab mereka menganggap penetapan2 shifat seperti itu sebagai tajsim.

Nah, untuk mengetahui dan memahami masalah ini dengan jernih dan rinci, kita perlu kembali dulu ke masa lalu, yakni masa hidupnya ulama2 salaf dan ulama2 setelahnya yang dekat masanya dengan ulama2 salaf, saat syubhat tajsim ini pertama kali dimunculkan oleh orang2 Jahmiyah, Mu’tazilah, dan kalangan Ahlul-Bid’ah pengingkar shifat2 Allah lainnya di masa itu.

Selasa, 22 April 2014

Isu Tentang Tasybih dan Musyabihah (2)


Point Kedua : Contoh peristiwa tentang tuduhan tasybih dari orang2 Jahmiyah, Mu’tazilah, dan kalangan Ahlul-Bid’ah pengingkar shifat2 Allah lainnya terhadap ulama Ahlus-Sunnah

Dalam artikel sebelumnya yakni Isu Tentang Tasybih dan Musyabihah (1) , telah disampaikan bahwa tasybih menurut ulama Ahlus-Sunnah itu hanya terjadi jika ada seseorang yang menyerupakan sesuatu dengan sesuatu, entah pada dzat-nya, atau pada shifatnya ataupun pada perbuatannya.
Misalnya seseorang berkata atau meyakini bahwa : “Tangan Allah adalah seperti tangan Ahmad.”, atau : “Wajah Allah seperti wajah Ahmad.”, atau : “Tertawanya Allah seperti tertawanya Ahmad.”, dan yang semisalnya.
Akan tetapi, orang2 jahil dari kalangan Jahmiyah, Mu’tazilah, dan kalangan Ahlul-Bid’ah pengingkar shifat2 Allah lainnya, dengan alasan tanzih dan ta'zim, maka mereka menetapkan kaidah tasybih versi mereka sendiri barangsiapa yang menetapkan shifat2 Allah (bahwa Allah memiliki tangan, memiliki kaki, memiliki wajah, tertawa, mendengar, dan sebagainya) meskipun hanya menetapkan shifat2 tersebut tanpa mengatakan : “Seperti….”, atau : “Bagaikan…”, maka ia tetaplah dianggap telah melakukan tasybih, dan kemudian mereka tetapkan sebagai musyabihah. 

Nah, untuk menggambarkan hal ini secara lebih jelas, maka kita akan melihat contoh peristiwa yang terjadi di masa lalu, yaitu dialog ringkas yang terjadi antara seorang ulama Ahlus-Sunnah, yakni ibnu Syaqila rahimahullah dengan seorang yang dipanggil dengan Abu Sulaiman Ad-Damsyiqi dalam beberapa masalah shifat Allah.

Jumat, 28 Maret 2014

Isu Tentang Tasybih dan Musyabihah (1)


Salah satu hal yang aneh di masa sekarang, adalah apabila anda berkata : “Allah memiliki dua tangan” atau : “Allah memiliki wajah”, atau : “Allah tertawa” Atau : “Allah ada di atas”, dan perkataan2 yang semisal saat menetapkan shifat2 Allah sebagaimana Allah dan Rasul-Nya tetapkan sendiri di dalam Al-Quran dan Sunnah yang shahih, maka tidak lama kemudian sebagian orang (meski tidak semua) yang menyebut dirinya sebagai Aswaja, dan mengaku sebagai bagian dari Asy’ariyah atau Maturidiyah akan menggelari anda dengan sebutan : “Musyabihah.” atau bahkan "Mujasimah", yakni anda akan dianggap telah menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sebab mereka menganggap penetapan2 shifat seperti itu sebagai tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), atau dianggap telah men-jismkan Allah. Dan ini merupakan salah satu diantara syubhat2 bathil dari orang yang menyebut dirinya aswaja, atau mengaku sebagai bagian dari Asy’ariyah atau Maturidiyah. 

Rabu, 21 Agustus 2013

'Aqidah imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah


Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, maka nama beliau tidaklah asing bagi kalangan ulama2 Ahlus-Sunnah, baik bagi kalangan mutaqadimin maupun kalangan mutaakhirin.
Beliau adalah salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah, salah seorang imam Madzhab diantara 4 imam madzhab yang terkenal dan beliau –sebagaimana imam Al-Humaidi rahimahullah- adalah salah seorang diantara murid yang paling utama diantara murid2nya Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, sekaligus beliau juga merupakan salah seorang murid dari 2 orang ulama Ahlus-Sunnah yang perkataannya telah dikutipkan sebelumnya di sini, yaitu imam Al-Humaidi rahimahullah dan Qutaibah bin Sa’id rahimahullah, sehingga tidak heran jika dalam ‘Aqidah, maka imam Ahmad rahimahullah ini tidak ada bedanya dengan imam Al-Humaidi rahimahullah dan Qutaibah bin Sa’id rahimahullah.

Selasa, 13 Agustus 2013

'Aqidah Al-Hafizh Abu Bakr Al-Isma'ili rahimahullah


Al-Hafizh Abu Bakr al-Isma’ili rahimahullah, maka beliau adalah Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim bin Isma’il bin Al-‘Abbas al-Isma’ili al-Jurjani, salah seorang fuqaha besar Syafi’iyyah.
Beliau lahir pada tahun 277 Hijriyah dan wafat pada tahun 371 Hijriyah.

Diantara guru-guru beliau yang terkenal adalah seorang ulama Syafi’iyyah yang dijuluki sebagai imamnya para imam, yaitu ibnu Khuzaimah rahimahullah, pemilik kitab Shahih ibnu Khuzaimah dan juga Al-Hafizh Ja’far bin Muhammad al-Firyabi rahimahullah, yang juga merupakan gurunya imam Ath-Thabrani rahimahullah, pemilik kitab Mu’jam.

Tentang Al-Hafizh Abu Bakr al-Isma’ili asy-Syafi’i rahimahullah ini, maka Al-Hakim rahimahullah mengatakan :
كان الإسماعيلي واحد عصره وشيخ المحدثين والفقهاء
“Abu Bakar al-Isma’ili adalah seorang yang utama di masanya, seorang syaikh Ahli hadits dan ahli Fiqih.”
(Tadzkiratul-Huffazh 3/106)

Al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan :
الإسماعيلي الإمام الحافظ الثبت شيخ الإسلام
“Abu Bakar al-Isma’ili, seorang imam, al-Hafizh yang tsabit, Syaikhul-Islam.”
(Tadzkiratul-Huffazh 3/106)

'Aqidah Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah

Sufyan At-Tsauri rahimahullah, maka beliau adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq, Abu Abdullah Ats-Tsauri, al-Imam, Syaikhul Islam, penghulunya para hafizh. 
Beliau lahir pada tahun 97 H dan wafat pada tahun 161 H.
Beliau adalah guru dari ‘Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, Yahya bin Sa’id al-Qathan, Waki’ bin Al-Jarah dan banyak lagi ulama2 besar Ahlus-Sunnah yang lainnya.
Sedangkan guru2 beliau yang paling masyhur diantaranya adalah Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq rahimahullah, putera dari, Sulaiman Al-A’masy rahimahullah, Syu’bah rahimahullah, ‘Abdurahman bin Al-Qasim rahimahullah, dan Zaid bin Aslam rahimahullah yang merupakan guru dari imam Malik rahimahullah.

Adapun mengenai kedudukan beliau di kalangan ulama2 Ahlus-Sunnah, maka Yahya bin Ma’in, Syu’bah, Abu Ashim, Sufyan bin ‘Uyainah dan jama’ah ulama rahimahumullah mengatakan :
سفيان أمير المؤمنين في الحديث
“Sufyan adalah Amirul-Mu’minin dalam hadits.”
(Tahdzibul-Kamal 11/164)

Senin, 28 Januari 2013

'Aqidah Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah

Beliau adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib, Abu Ja’far Ath-Thabari. 
Salah seorang ulama tafsir yang masyhur dari kalangan ulama salaf. 
Beliau adalah penyusun kitab Tafsir Al-Quran yakni kitab Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil ayil-Quran.(1)
Lahir pada tahun 224 atau 225 H dan wafat pada tahun 310 H.
Diantara guru2 ibnu Jarir rahimahullah yang paling masyhur diantaranya adalah Abu Kuraib, Ahmad bin Mani’, Muhammad bin Al-Mutsanna, Ya’qub bin Ibrahim dan yang lainnya yang juga merupakan guru2 dari imam Al-Bukhari rahimahullah dan imam Muslim rahimahullah.

Tentang ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah ini, maka Abu Bakar Al-Khatib rahimahullah mengatakan :
فكان حافظا لكتاب الله، بصيرا بالمعاني، فقيها في أحكام القرآن، عالما بالسنن وطرقها: صحيحها وسقيمها ناسخها ومنسوخها عارفا بأحوال الصحابة والتابعين 
“Beliau (Ibnu Jarir rahimahullah) adalah seorang yang hafizh dalam kitab Allah, mengetahui makna2 Al-Quran, memahami hukum2 Al-Quran, ‘alim dalam hadits dan jalan2nya, mengetahui ke-shahihan dan kelemahan hadits, nasikh-nya dan mansukh-nya, mengetahui hal ihwal tentang sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in.”
(Tadzkiratul-Huffazh 2/201) 

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan :
وهو أبو جعفر محمد بن جرير الطبرى الإمام المشهور، مجتهد 
“Beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari seorang imam yang masyhur, seorang mujtahid.”
(Tahdzibul-Asma wal-Lughat 3/117)

Adapun, perkataan dan keyakinan beliau dalam beberapa permasalahan 'aqidah ini diantaranya adalah :

Selasa, 01 Januari 2013

'Aqidah Imam Al-Humaidi rahimahullah

Al-Imam al-Humaidi rahimahullah. 
Beliau adalah 'Abdullah bin Az-Zubair bin 'Isa bin 'Ubaidullah bin Usamah, Abu Bakar al-Humaidi al-Maki rahimahullah, salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah, salah seorang murid dari imam Asy-Syafi’i rahimahullah dan salah seorang guru yang paling masyhur dari imam Al-Bukhari rahimahullah, dan guru dari Abu Hatim rahimahullah, Abu Zur'ah rahimahullah dan ulama2 salaf lainnya, dan beliau termasuk salah seorang imam dari imam2 Ahlus Sunnah. 


Al-Hakim rahimahullah mengatakan :
 الحميدي مفتي أهل مكة ومحدثهم وهو لأهل الحجاز في السنة كأحمد بن حنبل لأهل العراق
"Al-Humaidi adalah mufti-nya penduduk Mekkah dan muhadits mereka. 
Kedudukan Al-Humaidi bagi penduduk Hijaz dalam masalah sunnah, sama seperti kedudukan Ahmad bin Hanbal bagi penduduk 'Iraq."
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah 1/66)

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan :
الحميدي عندنا إمام
“Al-Humaidi rahimahullah di sisi kami adalah seorang imam”
(Tadzkiratul-Huffazh 2/3)

Al-Marwazi rahimahullah mengatakan :
سمعت إسحاق بن راهويه يقول الأئمة فى زماننا الشافعى والحميدى وأبو عبيد
“Aku mendengar Ishaq bin Rahawaih rahimahullah mengatakan : “Imam2 pada jaman kami adalah Asy-Syafi’i rahimahullah, Al-Humaidi rahimahullah, dan Abu ‘Ubaid rahimahullah”.
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra 2/140)

Abu Hatim rahimahullah mengatakan :
أثبت الناس في  ابن عيينة الحميدي وهو رئيس أصحاب ابن عيينة .... ثقة إمام
"Orang yang paling tsabit dalam riwayatnya ibnu 'Uyainah adalah Al-Humaidi, dan Al-Humaidi ini adalah pemimpinnya sahabat2 Sufyan bin 'Uyainah,...... dan ia adalah seorang yang tsiqah dan imam."
(Al-Jarh wa At-Ta'dil 5/28)

Imam Al-Bukhari rahimahullah mengatakan :
الحميدى إمام فى الحديث
"Al-Humaidi adalah imam dalam hadits."
(Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra 2/106)

Demikianlah, dapat kita lihat tingginya kedudukan beliau di kalangan ulama2 Ahlus-Sunnah.
Adapun diantara yang beliau katakan dalam masalah 'Aqidah ini adalah :

'Aqidah Qutaibah bin Sa'id rahimahullah

Qutaibah bin Sa’id, Abu Raja Ats-Tsaqafi rahimahullah, al-Muhadits Khurasan, beliau termasuk salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah. 
Beliau termasuk salah seorang guru dari imam Ahmad rahimahullah, Yahya bin Ma’in rahimahullah, imam Al-Bukhari rahimahullah, imam Muslim rahimahullah, At-Tirmidzi rahimahullah, Abu Dawud rahimahullah, An-Nasa'i rahimahullah, Ibnu Majah rahimahullah, Abu Hatim rahimahullah, Abu Zur'ah rahimahullah dan ulama2 salaf lainnya, rahimahumullah. Selain itu, beliau juga merupakan salah seorang murid dari imam Malik rahimahullah.
Beliau lahir pada tahun 149 H dan wafat pada tahun 240 H.

Tentang Qutaibah bin Sa’id rahimahullah ini, Al-Farhayani rahimahullah mengatakan :
قتيبة صدوق ليس أحد من الكبار إلا وقد حمل عنه
“Qutaibah adalah shaduq, dan tiada seorangpun dari para kibar ulama melainkan mengambil ilmu darinya.”
(At-Tahdzib 8/358)

Dan Al-Atsram rahimahullah mengabarkan :
سمعت أحمد بن حنبل ذكر قتيبة ، فأثنى عليه
“Aku mendengar Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyebut-nyebut tentang Qutaibah rahimahullah, dan memujinya.”
(Siyaru A’lam an-Nubala 11/16)

Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan :
هو شيخ الاسلام المحدث الامام الثقة
“Dia adalah Syaikhul Islam, al-Muhadits, imam yang tsiqah.”
(Siyaru A’lam an-Nubala 11/13)

Ibnu Siyar rahimahullah mengatakan :
وكان ثبتا صاحب سنة
"Beliau adalah seorang yang tsabit, shahibus-sunnah."
(Tadzkiratul-Huffazh 2/27)

Selanjutnya......
Berkenaan dengan masalah ‘Aqidah ini, maka Qutaibah bin Sa’id rahimahullah mengatakan :
هذا قول الأئمة المأخوذ في الإسلام والسنة :
“Ini adalah perkataan para imam yang diambil di dalam Islam dan sunnah yaitu :