Rabu, 14 Maret 2018

Do'a dan Dzikir Sesudah Shalat (4) : "Mengucapkan Tasbih, Tahmid dan Takbir masing-masing 33 kali"

Yakni sesudah shalat itu hendaknya seseorang berdzikir dengan mengucapkan : "Subhaanallooh" sebanyak 33 kali, kemudian mengucapkan : "Alhamdulillaah" juga sebanyak 33 kali, dan diakhiri dengan mengucapkan : "Alloohu Akbar" sebanyak 33 kali. Semuanya berjumlah 99, lalu kemudian menggenapkannya menjadi 100 dengan mengucapkan : “Laa ilaaha illalloohu, wahdahuu laa syariikalahu. Lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai-in qodiir”.

Imam Muslim rahimahullah telah meriwayatkan dari haditsnya Abu Hurairah radhiyallaahu’anhu dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :

Jumat, 15 September 2017

Do'a dan Dzikir Sesudah Shalat (3) : "Mengucapkan Tasbih, Tahmid dan Takbir masing-masing 10 kali"

Yakni sesudah shalat itu, seseorang mengucapkan "Subhaanallooh" sebanyak 10 kali, kemudian mengucapkan "Alhamdulillaah" juga sebanyak 10 kali, dan diakhiri dengan mengucapkan "Alloohu Akbar" sebanyak 10 kali.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Kitab Sunan-nya :
حدثنا أحمد بن منيع حدثنا إسماعيل بن علية حدثنا عطاء بن السائب عن أبيه عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال قال
رسول الله صلى الله عليه و سلم خلتان لا يحصيهما رجل مسلم إلا دخل الجنة ألا وهما يسير ومن يعمل بهما قليل يسبح الله في دبر كل صلاة عشرا ويحمده عشرا ويكبره عشرا قال فأنا رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يعقدها بيده قال فتلك خمسون ومائة باللسان وألف وخمسمائة في الميزان وإذا أخذت مضجعك تسبحه وتكبره وتحمده مائة فتلك مائة باللسان وألف في الميزان 

Jumat, 07 April 2017

Do'a dan Dzikir Sesudah Shalat (2) : "Mengucapkan : " Laa ilaaha illallooh, wahdahu laa syariikalah.......(sampai akhir)"

Imam Al-Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan dalam Ash-Shahih :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ وَرَّادٍ كَاتِبِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ أَمْلَى عَلَيَّ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ فِي كِتَابٍ إِلَى مُعَاوِيَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari Warrad, juru tulisnya Mughirah bin Syu’bah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :
“Mughirah bin Syu’bah mendiktekan padaku surat untuk Mu’awiyah radhiyallaahu ‘anhu bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan di setiap akhir shalat fardhu : “Laa ilaaha illallooh, wahdahu laa syariikalahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Alloohumma laa maani’a limaa a’thoita, wa laa mu’thiya lima mana’ta, wa laa yanfa’u dzal-jaddi minkal-jadd.”

Kamis, 23 Maret 2017

Do'a dan Dzikir Sesudah Shalat (1) : "Mengucapkan : "Astaghfirullooh" 3x, kemudian mengucapkan : "Alloohumma antassalaam.....(sampai akhir)"

Tsauban radhiyallaahu 'anhu mengatakan :
‏كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاَثًا وَقَالَ ‏ "‏ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ ‏"
"Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam apabila selesai dari shalatnya biasa mengucapkan istighfar 3 kali, dan mengucapkan : "Alloohumma antas-salaam wa minkas-salaam tabaarokta dzal-jalaali wal-ikroom."
(Artinya : "Ya Allah, Engkau adalah As-Salaam dan dari-Mu lah segala keselamatan. Maha Besar Engkau Dzat Pemilik keagungan dan kemuliaan.")
(Shahih Muslim no.591)

Dalam riwayat lainnya dari imam At-Tirmidzi rahimahullah, lafazh  ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ (dzal-jalaali wal-ikroom) disebutkan dengan redaksi يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ (yaa dzal-jalaali wal-ikroom) dengan tambahan lafazh "yaa" di awalnya.

Selasa, 27 Oktober 2015

Merapatkan jari2 tangan saat sujud dan menghadapkannya kearah kiblat

Yang dimaksud di sini adalah apabila seseorang yang shalat itu sedang melakukan sujud, maka disunnahkan baginya untuk menghamparkan telapak tangannya(1) sambil menggabungkan atau merapatkan jari-jari tangannya, dan menghadapkan jari-jari tangannya itu kearah kiblat, yakni meluruskannya sehingga jari-jari tangannya menghadap lurus kearah kiblat saat sujud tersebut.

Adapun tentang merapatkan jari-jari tangan saat sujud, maka hal ini berdasarkan apa yang telah diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana telah disebutkan oleh imam Ad-Daruquthni rahimahullah.
Beliau rahimahullah meriwayatkan :
حدثنا دعلج بن أحمد ثنا موسى بن هارون ثنا الحارث بن عبد الله بهمذان ثنا هشيم عن عاصم بن كليب عن علقمة بن وائل عن أبيه قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا ركع فرج أصابعه وإذا سجد ضم أصابعه الخمس

Jumat, 23 Oktober 2015

Apa yang dibaca ketika duduk diantara 2 (dua) sujud ?

Yakni saat seseorang itu duduk diantara dua sujudnya ketika ia melaksanakan shalat, maka apakah yang dia baca saat itu?
Berkenaan dengan masalah ini, terdapat 2 hadits yang telah diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama : Hadits ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu

Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan :
حدثنا محمد بن مسعود ثنا زيد بن الحباب ثنا كامل أبو العلاء حدثني حبيب بن أبي ثابت عن سعيد بن جبير عن أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقول بين السجدتين "  ابن عباس
اللهم اغفر لي وارحمني وعافني واهدني وارزقني
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mas’ud, telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubbab, telah menceritakan kepada kami Kamil Abul-‘Ala, telah menceritakan kepadaku Habib bin Abi Tsabit dari Sa’id bin Jubair dari ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu bahwa :
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat duduk diantara dua sujud mengucapkan : “Allaahummagh-firliy warhamniy wa ‘aafiniy wahdiniy warzuqniy (Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, maafkanlah aku, tunjukilah aku, dan berilah aku rezeki).”
(Sunan Abu Dawud 1/286 no.850)

Kamis, 09 Oktober 2014

Masih Shalat Sunah Saat Iqamat Mulai dikumandangkan?

Ada situasi yang mungkin pernah atau akan dialami oleh seseorang, yaitu adakalanya saat seseorang sedang melakukan shalat sunnah di masjid ((tahiyatul-masjid, rawatib, ataupun shalat sunnah lainnya), ternyata iqamat mulai dikumandangkan dan shalat wajib berjama’ah akan dilaksanakan, sedangkan shalat sunnah yang ia laksanakan itu belum selesai. Lalu, dalam situasi seperti ini, apakah yang sebaiknya dilakukan olehnya?
Apakah meneruskan shalat sunnah sampai selesai?
Ataukah menghentikannya, dan shalat tersebut ia putuskan tanpa perlu menyelesaikannya?

Berkenaan dengan masalah ini,  Imam Muslim rahimahullah telah meriwayatkan :
حدثني أحمد بن حنبل حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن ورقاء عن عمرو بن دينار عن عطاء بن يسار عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال  إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة 
Telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Warqa dari 'Amru bin Dinar dari 'Atha bin Yasar dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :
”Apabila qamat untuk shalat telah dikumandangkan, maka tidak ada shalat kecuali shalat wajib."
(Shahih Muslim  1/493 no.710)

Jumat, 26 September 2014

Saat adzan/iqamah dikumandangkan, sedangkan kita sedang bekerja....

Mungkin kita pernah atau sering mengalami hal ini, yakni saat kita melakukan sesuatu, entah itu pekerjaan di kantor, entah di rumah kita, dan yang lainnya, maka kita mendengar suara adzan atau iqamah dikumandangkan dari masjid.
Lalu, apa yang harus kita lakukan dalam kondisi seperti itu?
 
Berkenaan dengan hal ini, maka mari kita perhatikan salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari rahimahullah, beliau berkata :
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ قَالَتْ كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam dari Ibrahim dari Al-Aswad, dia berkata :
“Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha : “Apakah yang biasa dilakukan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di rumah beliau?”
Maka ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha menjawab : “Beliau mengerjakan pekerjaan keluarganya (yaitu membantu keluarganya), dan apabila waktu shalat telah tiba, maka beliau pergi keluar untuk menunaikan shalat.”
(Shahih al-Bukhari 1/136 no.676)

Kamis, 17 Juli 2014

Larangan tergesa-gesa saat pergi ke masjid


Pernahkah kita mendengar adzan atau iqamat sedangkan saat itu kita belum sempat bersiap-siap pergi ke masjid?
Kemudian, kita segera bergegas untuk pergi ke masjid dengan terburu-buru karena khawatir tertinggal takbir pertama, atau tertinggal raka'at ataupun tertinggal shalat berjama'ah di masjid?
Mungkin pernah, mungkin juga sering.....

Nah, berkenaan dengan hal ini, maka Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan :
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا

Selasa, 04 Februari 2014

Beginilah Ulama2 Salaf Menjaga Shalat Berjama'ah

Merupakan satu hal yang menarik untuk mengetahui seperti apa yang diriwayatkan dari beberapa ulama salaf rahimahumullah mengenai komitmen beliau semua, mengenai pandangan beliau semua dan mengenai sikap beliau semua dalam menjaga shalat berjama’ah ini.

So, untuk mengetahuinya lebih jauh, maka berikut beberapa riwayat dari ulama2 salaf yang berkenaan dengan hal ini, diantaranya :
 


1. ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, salah seorang sahabat besar, pernah berkata :
لقد رأيتنا وما يتخلف عن الصلاة إلا منافق قد علم نفاقه أو مريض إن كان المريض ليمشي بين رجلين حتى يأتي الصلاة  
“Sungguh dahulu kami melihat bahwa tidak ada seorangpun yang tertinggal shalat berjama’ah melainkan seseorang yang jelas kemunafikannya dan sungguh dahulu seorang laki2 datang menghadiri shalat berjama’ah dengan dipapah oleh dua orang laki2 lainnya sehingga ia diberdirikan di dalam shaf.”
(Shahih Muslim 1/435 no.654)
 
Beliau radhiyallaahu 'anhu juga berkata : 

Kamis, 02 Januari 2014

Membagi Satu Surat Al-Quran dalam Dua Raka'at

Imam An-Nasa’i rahimahullah telah meriwayatkan :
أخبرنا عمرو بن عثمان قال حدثنا بقية وأبو حيوة عن بن أبي حمزة قال حدثنا هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قرأ في صلاة المغرب بسورة الأعراف فرقها في ركعتين
Telah mengabarkan kepada kami ‘Amru bin ‘Utsman, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Baqiyah dan Abu Haiwah dari ibnu Abi Hamzah, ia berkata : “Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwa :
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada shalat Maghrib membaca surat Al-A’raf  dan membaginya dalam dua raka’at.”
(Sunan An-Nasa’i 2/170 no.991. Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini adalah : “Shahih.”)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah membaca satu surat dalam shalat Maghrib dan membaginya kedalam dua raka'at yang menunjukan tentang bolehnya membagi satu surat kedalam dua raka’at.
Mengenai hal ini, telah diriwayatkan pula dari Abu Bakar ash-Shidiq radhiyallaahu ‘anhu bahwa beliau pernah membaca surat Al-Baqarah dalam shalat Subuh dan membaginya kedalam dua raka’at.

Kamis, 26 September 2013

Mengangkat Dua Tangan saat Takbir

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah dari Malik dari ibnu Syihab dari Salim bin ‘Abdullah dari ayahnya (yakni ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu) bahwa :
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam apabila takbir membuka shalat, beliau mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya, dan juga mengangkat kedua tangannya apabila bertakbir untuk ruku’..."
(Shahih al-Bukhari 1/148 no.735)

Dalam riwayat lainnya, imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan hadits ini dari ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu dengan lafazh :
رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَتَحَ التَّكْبِيرَ فِي الصَّلَاةِ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حِينَ يُكَبِّرُ حَتَّى يَجْعَلَهُمَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ
“Aku melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membuka takbir dalam shalat sambil mengangkat kedua tangannya saat bertakbir tersebut sehingga menjadikan kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya.”
(Shahih al-Bukhari 1/148 no.738)

Tentang hadits ini, sedikitnya terdapat dua pembahasan….

Membuka Shalat dengan Takbir, yakni mengucapkan : "Allaahu Akbar"

Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan :
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ
"............dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti. Maka apabila ia bertakbir, bertakbirlah kalian. Apabila ia ruku’, ruku’-lah kalian. Apabila ia mengucapkan sami’allaahu li man hamidah, maka ucapkanlah oleh kalian rabbanaa walakal hamdu. Apabila ia sujud, sujudlah kalian. Dan apabila ia shalat sambil duduk, maka shalatlah kalian semua sambil duduk.”
(Shahih al-Bukhari 1/147 no.734)

Yang menjadi pokok pembahasan dalam hadits ini adalah sabda Nabi shallalaahu ‘alaihi wa sallam : “Maka apabila ia bertakbir, bertakbirlah kalian.”, yang menunjukan bahwa shalat itu dibuka dengan takbir.

Selasa, 01 Januari 2013

Memejamkan Mata Saat Shalat, Bolehkah?

Adapun apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau shalat dengan membuka kedua mata beliau sebagaimana diriwayatkan dalam beberapa hadits yang shahih, diantaranya.....

Imam Al-Bukhari rahimahullah telah meriwayatkan dari haditsnya ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata :
رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُخَامَةً فِي قِبْلَةِ الْمَسْجِدِ وَهُوَ يُصَلِّي بَيْنَ يَدَيْ النَّاسِ 
 
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat dahak di arah kiblat masjid sedang beliau dalam keadaan shalat di hadapan manusia..” 
(Shahih al-Bukhari 1/151 no.753)

Dan imam Al-Bukhari rahimahullah juga telah meriwayatkan dari haditsnya Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda :
قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ الْآنَ مُنْذُ صَلَّيْتُ لَكُمْ الصَّلَاةَ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ مُمَثَّلَتَيْنِ فِي قِبْلَةِ هَذَا الْجِدَار
“Sungguh aku telah melihat sekarang – sejak aku meng-imami kalian- surga dan neraka digambarkan di kiblat tembok ini..”
(Shahih al-Bukhari 1/150 no.749)

Senin, 17 Desember 2012

Hadits shalat sebagai penghapus dosa

Bismillah…
Bagaimana menurut kita jika ada seseorang yang setiap hari dia mandi sebanyak 5 kali?
Apakah akan tersisa kotoran pada tubuhnya?
Bagaimana pula jika ada seseorang yang di hadapan rumahnya terbentang sebuah sungai dan setiap kali dia hendak masuk ke dalam rumahnya sehabis bepergian, dia terlebih dahulu mandi di sungai tersebut, maka dapat dibayangkan betapa bersih tubuhnya saat dia masuk ke dalam rumahnya bukan?

Maka demikian pula shalat.
Allah menjadikan shalat tersebut sebagai penghapus dosa2 yang terjadi diantara waktu2nya.
Dari Subuh ke Zhuhur, dari Zhuhur ke Ashar, dari Ashar ke Maghrib, dari Maghrib ke Isya, dan dari Isya ke Subuh.
Begitu seterusnya, di setiap waktu dan di setiap zaman.

Hadits tentang keutamaan berjalan menuju Masjid

Kalau suatu saat kita ditanya : “Berapa banyak-kah dalam satu hari kedua kaki ini kita langkahkan?”
Atau kalau kita ditanya : “Kemana sajakah kedua kaki ini dalam satu hari kita ajak untuk melangkah?”
Apakah jawaban kita?
Tentu masing2 orang akan menjawab dengan jawaban yang berbeda-beda.


Lalu, bagaimanakah jika ada seseorang yang menawarkan kepada kita bahwa jika kita mau melangkahkan kaki kita ke tempat anu dan anu, maka kita akan diberikan imbalan harta yang banyak sebanyak langkah yang kita lakukan?
Apakah kita akan menerima tawaran darinya?
Mungkin kita semua akan sepakat untuk menerima tawaran tersebut……dengan senang hati. 

Lalu, bagaimana jika Allah dan rasul-Nya yang memberikan penawaran tersebut yaitu barangsiapa yang mau melangkahkan kakinya ke mesjid, maka ia akan diberikan imbalan yang lebih baik dari sekedar harta?
Apakah kita juga akan dengan senang hati menerimanya?
Ini adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.

Namun, untuk mengetahui apa saja yang ditawarkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya dalam hal ini, mari kita simak beberapa hadits berikut yang disebutkan oleh imam Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahih-nya, insya Allah.