Selasa, 01 Januari 2013

'Aqidah Qutaibah bin Sa'id rahimahullah

Qutaibah bin Sa’id, Abu Raja Ats-Tsaqafi rahimahullah, al-Muhadits Khurasan, beliau termasuk salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah. 
Beliau termasuk salah seorang guru dari imam Ahmad rahimahullah, Yahya bin Ma’in rahimahullah, imam Al-Bukhari rahimahullah, imam Muslim rahimahullah, At-Tirmidzi rahimahullah, Abu Dawud rahimahullah, An-Nasa'i rahimahullah, Ibnu Majah rahimahullah, Abu Hatim rahimahullah, Abu Zur'ah rahimahullah dan ulama2 salaf lainnya, rahimahumullah. Selain itu, beliau juga merupakan salah seorang murid dari imam Malik rahimahullah.
Beliau lahir pada tahun 149 H dan wafat pada tahun 240 H.

Tentang Qutaibah bin Sa’id rahimahullah ini, Al-Farhayani rahimahullah mengatakan :
قتيبة صدوق ليس أحد من الكبار إلا وقد حمل عنه
“Qutaibah adalah shaduq, dan tiada seorangpun dari para kibar ulama melainkan mengambil ilmu darinya.”
(At-Tahdzib 8/358)

Dan Al-Atsram rahimahullah mengabarkan :
سمعت أحمد بن حنبل ذكر قتيبة ، فأثنى عليه
“Aku mendengar Ahmad bin Hanbal rahimahullah menyebut-nyebut tentang Qutaibah rahimahullah, dan memujinya.”
(Siyaru A’lam an-Nubala 11/16)

Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan :
هو شيخ الاسلام المحدث الامام الثقة
“Dia adalah Syaikhul Islam, al-Muhadits, imam yang tsiqah.”
(Siyaru A’lam an-Nubala 11/13)

Ibnu Siyar rahimahullah mengatakan :
وكان ثبتا صاحب سنة
"Beliau adalah seorang yang tsabit, shahibus-sunnah."
(Tadzkiratul-Huffazh 2/27)

Selanjutnya......
Berkenaan dengan masalah ‘Aqidah ini, maka Qutaibah bin Sa’id rahimahullah mengatakan :
هذا قول الأئمة المأخوذ في الإسلام والسنة :
“Ini adalah perkataan para imam yang diambil di dalam Islam dan sunnah yaitu :


1. Tentang Qadar

Beliau rahimahullah mengatakan :
الرضا بقضاء الله ، والاستسلام لأمره ، والصبر على حكمه ، والإيمان بالقدر خيره وشره
“Ridha dengan ketentuan Allah dan berserah diri pada ketetapan-Nya, bersabar atas keputusan-Nya.
Beriman dengan qadar, yang baik maupun yang buruknya.”
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)


2. Tentang Iman

Beliau rahimahullah mengatakan :
، والإيمان يتفاضل ، والإيمان قول وعمل ونية ، والصلاة من الإيمان ، والزكاة من الإيمان ، والحج من الإيمان ، وإماطة الأذى عن الطريق من الإيمان
“Iman itu bertingkat-tingkat dan Iman itu adalah ucapan, perbuatan dan niat.
Shalat itu termasuk iman, zakat termasuk iman, haji termasuk iman dan menyingkirkan duri dari jalan, juga termasuk iman.” (1)
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)


3. Tentang sahabat-sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam


Beliau rahimahullah mengatakan :
وأفضل هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر ثم عثمان ، والكف عن مساوئ أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم ، ولا يذكر أحد منهم بسوء ، ولا ينتقص أحد منهم
“Dan yang paling utama dari umat ini setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu, kemudian ‘Umar radhiyallaahu ‘anhu, kemudian ‘Utsman radhiyallaahu ‘anhu (note : -kemudian ‘Ali radhiyallaahu ‘anhu-).
Dan kami menjaga diri dari membicarakan keburukan sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak menyebut salah seorangpun dari mereka dengan kejelekan, serta tidak menghina salah seorangpun dari mereka.”
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)


4. Tentang Al-Quran adalah kalam Allah

Beliau rahimahullah mengatakan :
والقرآن كلام الله عز وجل......
، ومن قال : إن هذه الآية مخلوقة فهو كافر ( إنني أنا الله لا إله إلا أنا فاعبدني ) وما كان الله ليأمر موسى أن يعبد مخلوقا
“Dan Al-Quran adalah kalam Allah ‘Azza wa Jalla…..
Barangsiapa yang mengatakan bahwa ayat ini : “Sesungguhnya aku adalah Allah, tiada ilah selain Aku, maka sembahlah Aku (Q.S Thaa-Haa ayat 14) adalah makhluk, maka dia telah kafir.”
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)


5. Tentang melihat Allah kelak di akhirat

Beliau rahimahullah mengatakan :
، ونؤمن بالرؤية ، والتصديق بالأحاديث التي جاءت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم في الرؤية حق
“Dan beriman tentang melihat kepada Allah, dan membenarkan hadits2 yang haq datangnya dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam perkara melihat Allah ini.” (2)
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)

6. Tentang Allah dan ‘Arsy

Beliau rahimahullah mengatakan :
ويعرف الله في السماء السابعة على عرشه كما قال : ( الرحمن على العرش استوى ، له ما في السموات وما في الأرض وما بينهما وما تحت الثرى
“Dan mengetahui Allah itu ada di atas langit yang tujuh, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Dia firmankan : “Arrahmaanu ‘alal-‘Arsys-tawaa, lahuu maa fis-samaawati wa maa fil-‘Ardi wa maa bainahumaa wa maa tahtats-tsaraa."(Q.S Thaa-Haa ayat 5-6)
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)


7.Tentang Siksa Kubur, Mizan, Al-Haudh, Syafa’at, orang-orang yang keluar dari neraka, dan Ad-Dajal


Beliau rahimahullah mengatakan :
وعذاب القبر حق ، والميزان حق ، والحوض حق ، والشفاعة حق ، وقوم يخرجون من النار حق ، وخروج الدجال والرحم  حق
“Dan siksa kubur itu adalah benar (3), mizan itu adalah benar (4), al-Haudh itu adalah benar (5), syafa’at itu adalah benar (6), adanya kaum yang keluar dari neraka itu adalah benar (7), keluarnya Dajal itu adalah benar….(8)
(Syi’ar Ash-hab Al-Hadits 1/17)
 



Note :
(1) Tentang hal-hal yang termasuk iman ini, diantaranya adalah sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
الإيمان بضع وستون شعبة فأفضلها قول لا إله إلا الله وأدناها إماطة الأذى عن الطريق والحياء شعبة من الإيمان
“Iman itu ada 70 lebih atau 60 lebih bagian. Yang paling utama darinya adalah ucapan Laa ilaaha illallaah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalanan.
Dan malu merupakan bagian dari iman.”
(Shahih Muslim 1/63 no.35)

(2) Diantara dalil tentang melihat Allah kelak di akhirat ini, adalah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian.”
(Shahih al-Bukhari 1/119 no.573)

(3) Tentang siksa kubur
Maka ini adalah sebagaimana dikabarkan sendiri oleh Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, diantaranya beliau bersabda :
استعيذوا بالله من عذاب جهنم استعيذوا بالله من عذاب القبر
“Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa Jahanam dan berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur.”
(Sunan At-Tirmidzi 5/582 no.3604, Imam At-Tirmidzi rahimahullah lalu mengatakan bahwa : “Hadits ini hasan shahih.”)

(4) Tentang mizan atau timbangan
Maka ini adalah sebagaimana dikabarkan oleh Allah di dalam Al-Quran, diantaranya firman Allah :
“Timbangan pada hari itu ialah al-Haq, maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung dan barangsiapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.”
(Q.S Al-A’raf ayat 9-10)

Dan juga sebagaimana dikabarkan sendiri oleh Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, diantaranya beliau pernah bersabda :
ما شيء أثقل من ميزان المؤمن يوم القيامة من خلق حسن
“Tidaklah ada sesuatupun yang lebih berat dari timbangan seorang mu’min kelak di hari kiamat dibandingkan akhlak yang baik.”
(Sunan At-Tirmidzi 4/362 no.2002. Imam At-Tirmidzi rahimahullah lalu mengatakan bahwa : “Hadits ini hasan shahih.”)

(5) Tentang Al-Haudh (telaga Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam)
Maka ini diantaranya adalah sebagaimana dikabarkan sendiri oleh Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, beliau pernah bersabda :
حوضي مسيرة شهر وزواياه سواء وماؤه أبيض من الورق وريحه أطيب من المسك وكيزانه كنجوم السماء فمن شرب منه فلا يظمأ بعده أبدا
“Haudh-ku luasnya adalah sejauh satu bulan perjalanan. Setiap sisinya sama panjangnya. Airnya lebih putih dari perak dan baunya lebih harum daripada kesturi. Barangsiapa yang minum dari Al-Haudh, maka dia tidak akan merasa haus lagi sesudahnya untuk selama-lamanya.”
(Shahih Muslim 4/1793 no.2292)

(6) Tentang syafa’at
Hal ini sebagaimana dikabarkan sendiri oleh Allah di dalam Al-Quran, diantaranya firman Allah :
“Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.”
(Q.S Thaa-Haa ayat 109)

Dan sebagaimana dikabarkan sendiri oleh Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, diantaranya beliau pernah bersabda :
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah dengan ikhlas dari dalam hatinya atau jiwanya.”
(Shahih Al-Bukhari 1/31 no.99)

(7) Tentang orang-orang yang keluar dari neraka
Maka hal ini dikabarkan sendiri oleh Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, diantaranya beliau pernah bersabda :
حَتَّى إِذَا أَرَادَ اللَّهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ أَمَرَ اللَّهُ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ فَيُخْرِجُونَهُمْ وَيَعْرِفُونَهُمْ بِآثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ
“Sehingga apabila Allah bermaksud untuk memberikan rahmat-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya dari penghuni2 neraka, maka Allah memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan dari neraka siapa saja yang pernah menyembah-Nya.
Para malaikat lalu mengeluarkan dari neraka orang2 yang dikenal dari tanda2 bekas sujud mereka, dan Allah telah mengharamkan kepada neraka untuk membakar bekas2 sujud.
Maka akhirnya, merekapun keluar dari neraka.”
(Shahih al-Bukhari 1/161 no.806)

(8) Tentang keluarnya Ad-Dajal
Maka hal ini telah dikabarkan sendiri oleh Nabi shallallaahu  ‘alaihi wa sallam, diantaranya beliau pernah bersabda :
ليس من بلد إلا سيطؤه الدجال إلا مكة والمدينة
“Tidak ada satu negeripun melainkan akan dilewati oleh ad-Dajal kecuali Mekah dan Madinah.”
(Shahih Muslim 4/2265 no.2943)


1 komentar:

  1. Masya Allah, boleh di infokan nama judul buku 2 qitaibah bin Syaid.

    BalasHapus