Rabu, 08 Januari 2014

Catatan Kecil untuk Ust. Idrus Ramli

Mungkin banyak dari kita yang sudah tahu bahwa beberapa hari yang lalu Kemenag Batam telah menyelenggarakan suatu dialog antara 2 orang ustadz dari kalangan Nahdhiyin dengan 2 orang ustadz salafi tentang beberapa masalah Fiqih. Ustadz dari kalangan Nahdhiyin diwakili oleh Ust. Idrus Ramli dan KH Thobari Syadzili. Sedangkan dari pihak salafi diwakili oleh Ust. Zainal ‘Abidin dan Ust. Firanda Andirja.
Bagi yang belum mengetahuinya, maka bisa melihat videonya di :

Bagi saya dialog tersebut merupakan suatu hal yang baik. So, tentu saja, perasaan dan pemikiran yang baik –alhamdulillah- kemudian timbul setelah usai menontonnya.
Hanya saja, kesan baik itu kemudian sedikit terganggu dengan adanya “catatan” dari pihak Ust. Idrus dan K.H Thobary tentang jalannya dialog.
Satu “catatan” yang sebagian diantaranya menurut saya tidak selayaknya dikemukakan oleh dua orang ustadz selevel beliau berdua.

Selanjutnya….
Setelah membaca “catatan” kecil tersebut, khususnya yang dari Ust. Idrus di blognya, maka saya pribadi merasa sedikit tergelitik untuk memberikan “catatan kecil” pribadi untuk menanggapi sebagian masalah yang dituliskan dalam catatan yang dibuat oleh Ust. Idrus itu.
Bagi yang ingin membaca catatan yang dibuat oleh Ust. Idrus itu secara lengkap bisa dibaca di :

Diantara yang perlu ditanggapi adalah beberapa hal di bawah ini…..


1. Masalah kesempatan berbicara bagi KH Thobary

Ust. Idrus Ramli mengatakan :
Dalam dialog tersebut, perwakilan dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah sebagai pembicara, hanya al-faqir Muhammad Idrus Ramli. Sedangkan Kiai Thobari Syadzili, hanya menemani duduk, tidak diberi waktu berbicara

Tidak diberi waktu berbicara?
Pernyataan uts. Idrus Ramli bahwa KH Thobary tidak diberi waktu berbicara benar2 mengherankan, bahkan sangat mengherankan.
Padahal kita dapat melihat sendiri di videonya, moderator dialog tersebut sejak awal (lihat video di menit ke-6 sampai dengan menit ke-6 lebih 10 detik) mengatakan bahwa setiap narasumber diberi kesempatan untuk berbicara selama 20 menit, dan silahkan-silahkan saja jika kemudian diantara 2 narasumber dari masing2 pihak itu mau membaginya selama 10 menit-10 menit, sehingga setiap narasumber dari masing2 pihak mempunyai kesempatan berbicara selama 10 menit.
Yang menunjukan kalau kesempatan berbicara itu tetap diberikan kepada K.H Thobari sebagai salah satu narasumber dari pihak Nahdhiyin.
Itu artinya, KH Thobary selaku narasumber dari Nahdhiyin sejak awal juga sama2 diberi kesempatan yang sama dengan yang lainnya untuk berbicara.

Bahkan K.H Thobary sendiri mengatakan :
“Dalam dialog ilmiah hari Sabtu pagi, 28 Desember 2013 M. / 1435 H. di Batam antara Aswaja dan Salafi Wahabi, sengaja saya tidak bicara karena waktunya sangat sempit sekali yaitu masing-masing pihak untuk dua orang nara sumber, baik dari pihak Aswaja maupun Salafi Wahabi, hanya diberikan waktu 20 menit oleh moderator, sehingga saya mewakilkan sepenuhnya kepada Ustadz Idrus Romli untuk angkat bicara..”
Sumber :

Dan beliau juga mengatakan :
“Adapun diamnya saya dalam dialog dan menyerahkan sepenuhnya kepada ustadz Idrus Ramli untuk angkat bicara, itu menunjukkan sikap lunak hati saya agar tidak memicu konflik..”

Nah, jelas sekali bahwa KH Thobary sendiri mengakui bahwa tidak berbicaranya beliau bukan karena tidak diberi kesempatan berbicara, akan tetapi karena itu adalah pilihan beliau sendiri.
So, kalaulah K.H Thobary sendiri yang memilih untuk tidak berbicara, lalu mengapa Ust. Idrus malah memberikan kesan negative se-olah2 pihak lain-lah yang bersalah dan mengatakan kalau KH Thobary tidak diberikan kesempatan berbicara?


2. Masalah Hadits Abi Malik al-Asyja’i

Ust. Idrus Ramli mengatakan di blognya:
Dalam bahasan qunut shubuh, Firanda melakukan kesalahan ilmiah ketika mengomentari tanggapan saya terhadap hadits Abi Malik al-Asyja’i. Sebagaimana dimaklumi, dalam riwayat al-Tirmidzi, an-Nasa’i, Musnad Ahmad dan Ibnu Hibban, Abu Malik al-Asyja’i menafikan qunut secara mutlak, baik qunut nazilah maupun qunut shubuh. Tetapi Firanda mengatakan bahwa dalam kitab-kitab hadits, hadits Abu Malik al-Asyja’i menggunakan redaksi yaqnutun fil fajri (qunut shalat shubuh). Ternyata setelah kami periksa dalam kitab-kitab hadits, kalimat fil fajri tidak ada dalam riwayat-riwayat tersebut. Silahkan diperiksa dalam Sunan al-Tirmidzi juz juz 2 hal. 252 (tahqiq Ahmad Syakir), Sunan al-Kubra lin-Nasa’i, juz 1 hal. 341 tahqiq at-Turki atau al-Mujtaba lin-Nasa’i juz 2 hal. 304 tahqiq Abu Ghuddah.

Dalam perkataannya ini, ust. Idrus menyatakan bahwa ust. Firanda telah melakukan kesalahan ilmiah tentang hadits Abu Malik al-Asyja’i dalam matan haditsnya yakni terkait lafazh “yaqnutuuna fil-fajri”. Ust. Idrus menganggap kalau lafazh tersebut sebenarnya tidak terdapat dalam kitab2 hadits.

Tapi, pertama :
Saya menonton video dialog ilmiah tersebut sampai selesai, dan sama sekali tidak mendapati kalau ust. Firanda pernah mengatakan secara rinci kalau hadits Abu Malik al-Asyja’i itu dalam kitab2 hadits diriwayatkan dengan lafazh : “Yaqnutuuna fil-fajri.”
Entah saya yang terlewat, atau entah klaim dari ust. Idrus itu hanyalah kekeliruan beliau dalam menyimpulkan perkataan Ust. Firanda.
Sebab yang saya ketahui dari rekaman videonya (1:34:15-), ust. Firanda hanya mengatakan :
"Hadits Abu Malik al-Asyja'i dia menafikan bukan dengan ilmu, tapi dia mengatakan : "Ra-aitu khalfa......apa...shallaitu khalfa Rasulillah wa Abi Bakar wa 'Umar................dan seterusnya."

Kedua :
Terlepas dari hal pertama di atas, pernyataan ust. Idrus bahwa lafazh tersebut sebenarnya tidak terdapat dalam kitab2 hadits, maka di sini ust. Idrus telah keliru, sebab hadits Abu Malik al-Asyja’i radhiyallaahu ‘anhu yang diriwayatkan dengan lafazh “yaqnutuuna fil-fajri” memang benar2 terdapat dalam sebagian kitab hadits.
Diantaranya, sebagaimana diriwayatkan oleh imam ibnu Majah rahimahullah dalam Kitab Sunan beliau dalam bab Maa Jaa-a fil-qunuut fi shalatil-fajr (Apa yang datang dalam masalah qunut pada shalat Subuh), yaitu ibnu Majah rahimahullah meriwayatkan :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِدْرِيسَ ، وَحَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ ، وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ ، قَالَ : قُلْتُ لأَبِي : يَا أَبَتِ , إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ , وَأَبِي بَكْرٍ , وَعُمَرَ , وَعُثْمَانَ , وَعَلِيٍّ هَاهُنَا بِالْكُوفَةِ ، نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ ، فَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ فَقَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idris, Hafsh bin Ghiyats dan Yazid bin Harun dari Abi Malik al-Asyja’iy Sa’d bin Thariq, ia berkata : “Aku bertanya kepada ayahku : “Wahai ayah, sesungguhnya engkau pernah shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum ajma’in di Kufah sekira 5 tahun. Maka apakah beliau semua melakukan qunut pada shalat Fajar?”
Maka ayahku menjawab : “Wahai anakku, itu adalah muhdats.”
(Sunan ibnu Majah 2/296 no.1241)

Sanad ini adalah shahih, semua perawinya adalah perawi2 tsiqah.

Kemudian, imam Ath-Thabrani rahimahullah telah meriwayatkan hal yang semakna dalam Al-Mu’jam (Sepertinya, lafazh dari imam Ath-Thabrani rahimahullah inilah yang dikutip oleh ust. Firanda):
حدثنا عبيد بن غنام ثنا أبو بكر بن أبي شيبة ثنا يزيد بن هارون أنا أبو مالك الأشجعي عن أبيه قال صليت خلف رسول الله صلى الله عليه و سلم و أبي بكر و عمر و عثمان رضي الله عنهم و علي ههنا بالكوفة نحوا من خمس سنين وكان لا يقنتون في الفجر ثم قال : يا بني محدث
“Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid bin Ghanam, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun, telah mengabarkan kepada kami Abi Malik al-Asyja’i dari ayahnya, ia berkata : “Aku shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallaahu ‘anhum ajma’in di Kufah sekira 5 tahun, dan beliau semua tidaklah melakukan qunut pada shalat Fajar.”
Kemudian ia berkata : “Wahai anakku, itu adalah muhdats.”
(Al-Mu’jam al-Kabir 8/377 no.8178)

Dan riwayat yang lainnya yang tidak perlu disebutkan di sini.
Nah, dua riwayat ini sudah cukup untuk menunjukan kekeliruan pernyataan ust. Idrus Ramli.



3. Ust. Idrus Ramli menuduh Ust. Zainal dan Ust. Firanda dituduh tidak menghormati para ulama

Ust Idrus Ramli mengatakan :
Delegasi dari Wahabi, Zainal maupun Firanda, tidak menaruh hormat kepada pendapat para ulama besar sekaliber Imam Ahmad bin Hanbal, Imam an-Nawawi, al-Hafizh Ibnu Hajar dan lain-lain.

Ini penyimpulan yang -maaf- keliru dan terburu-buru.
Apakah sebenarnya kriteria hormat dan tidak hormat menurut ustadz Idrus ini?
Dalam dialog kurang lebih 2 jam itu sama sekali tidak ada sikap ataupun ucapan dari Ust. Zainal dan Ust. Firanda yang menunjukan ketidakhormatan kepada para ulama besar yang disebutkan oleh ust. Idrus.

Kalaulah –misalnya- hanya karena ust. Zainal dan ust. Firanda berargumen dan berhujjah yang berbeda dengan argument dan hujjah yang dilakukan oleh sebagian ulama, maka ini sama sekali tidak berarti kalau beliau berdua tidak menghormati sebagian ulama tersebut.
Sama sekali tidak seperti itu.
Sebab jika konsekuensinya seperti itu, maka kitapun bisa mengatakan kalau ust. Idrus tidak menghormati sahabat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saat ust. Idrus tidak mengambil perkataan Thariq al-Asja’iy radhiyallaahu ‘anhu dalam masalah qunut.


4. Catatan2 lainnya yang tidak perlu ditanggapi semuanya disini sebab beberapa diantaranya juga tidak keluar dari kekeliruan Ust. Idrus dalam penyimpulannya, sampai-sampai beliau sempat menyamakan 2 ustadz salafi dengan Syi’ah.
Ini benar2 mengherankan.

28 komentar:

  1. maklum idrus ramli sudah bingung buat argumen,masalahnya biar dia ngomong panjang lebar juga tapi ketika di bantah ustd firanda dengan sedikit dalil yang pas sepertinya akal dia sudah lepas dari dirinya maklum yg di perdebatkan syariat yg butuh pendalilan yg bener bukan di terjemahkan dengan hawa nafsu akal kita.
    ijma dan qiyas tidak di butuhkan selama al-qur'an dan as-sunnah sudah menjelaskanya.kita cuman tinggal mencontoh syariat beragama yang berdalil saja bukan yg di ada-adakan terus di anggap syariat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sanggahan antum Sebaikx langsung aja di tulis di blogx idrus romli biar kelar

      Hapus
  2. Ya...biasa la... Kalau org mendalilkan amal.( bukan mengamalkan dalil)... Dia akan meng ADJUST( setting) sampai sesuai sama kemahuan nya.dia tidak mau ikut shalafusshaleh, dikarnakan dia itu asalboleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antum punya slogan bagus,,,

      "Mendalilkan amal bukan mengamalkan dalil"

      Hapus
  3. ni yang ngomong orang betawi,...gw emang blm layak di sebut salaf,ahlussunnah,aswaja,apapun itu yg maksudnya kesitu. tapi gw aja orang awam tau sp itu syeikh albani, kalo emang beliau ada kesalahan kemakluman itu ada.,....lah kok pake ajakan supaya mengisolir (jangan ngikutin lagi) usaha dakwah keilmuan beliau. ibarat kata ni jari 10 yg kena kusta dua (..dan harus diamputasi ) masa iya 10-10nya di potong?,eeehhh ini ustad kencur brani mendiskreditkan beliau. punya nyawa 9 kali ni orang. nyawa ada 9 juga blom ngejamin kalo kita masuk sorga!! kalo 9-9nya masuk neraka gemana??? bocorrr lu 'tad !!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antum blm tau itu siapa albani, beliau mengaku pakar hadits tapi tanpa sanad. Beliau menelitix hnya lewat pustaka. Klo dibandingkn dg albukhari ya jauh. Padahal beliau bergerilya utk bertemu dg jejak sanad (org yg meriwayatkan hadits), tapi toh sbanyak lbh 7000 hadits beliau di dhoifkan oleh pakar hadits yg tanpa sanad tsb. Lo ini gmn?

      Hapus
    2. Antum blm tau itu siapa albani, beliau mengaku pakar hadits tapi tanpa sanad. Beliau menelitix hnya lewat pustaka. Klo dibandingkn dg albukhari ya jauh. Padahal beliau bergerilya utk bertemu dg jejak sanad (org yg meriwayatkan hadits), tapi toh sbanyak lbh 7000 hadits beliau di dhoifkan oleh pakar hadits yg tanpa sanad tsb. Lo ini gmn?

      Hapus
  4. Akidah ente apa? BERANI JAWAB? Apakah ini akidah ente?

    "'Allah Ada Dimana?' - Sebuah Aqidah Berbahaya" EDISI AKIDAH

    Pertanyaan di atas adalah pertanyaan jebakan untuk orang yang selalu membahas tempat keberadaan Allah. Orang yang selalu membahas keberadaan Allah berawal lewat pertanyaan di atas. Padahal itu pertanyaan terlarang, SESAT. Saya bertanya saat melakukan dialog akidah dengan anggota grup tertentu, yang entah dia mujazimah (membadankan Allah) atau tidak.

    Pertanyaan di atas sudah tumbuh subur dengan jawabannya, bahkan tumbuh subur di Indonesia, seolah sebuah jawaban "ketauhidan". Betapa berbahaya akidah ini, namun banyak orang berbondong-bondong mengikuti akidah berbahaya ini (entah apa motif-nya ikut golongan ini). Kenapa berbahaya? Karena bisa keluar dari iman. Lebih berbahaya aqidahnya dari akidah Mu'tazilah. Golongan Mu'tazilah dalam membahas akidah selalu berusaha untuk mensucikan Allah dari unsur kemakhlukan - walah Muktazilah banyak juga kesesatan.

    Saya bertanya seperti di atas adalah karena mereka selalu membid'ahkan dan mensyirikkan amalan NU, secara umum amalam ASWAJA (Ahlussunnah Wal Jama'ah). Saya mencurigai akidahnya. Lalu saya mengajak dialog dengan salah satu diantara mereka tentang aqidah: satu orang lawan satu orang.

    Saat saya bertanya "Allah Ada Dimana?", ada orang yang mempublish pertanyaan saya dan berkata, "Kenapa masih bertanya Allah Ada Dimana? Kenapa masih membahas Ayat Mutasyabihat?" Lalu orang yang sedang berdialog pun seakan tidak mau membahas tentang hal ini. Saat terpancing dialog panjang lebar, justru orang itulah yang menjawab hakekat keberadaan Tuhan. Karena jika mereka sudah meyakini makna teks "Allah Ber-istiwa (semayam) Di Atas Arsy" benar-benar seperti teks, itulah jawaban atas pertanyaan di atas.

    Waktu itu saya memancing dia dan mengajukkan pertanyaan, "Lalu apa maksud Allah bersemayan di atas Arsy?" Kesimpulannya, dia menjawab bahwa bersemayam maknanya luas. Bahkan menganggap bersemayam adalah bahasa Al-Qur'an (Saya jawab: Aneh, bahasa Indonesia NKRI dianggap bahasa Al-Qur'an), karena kepleset omongan. Saya tidak paham apa yang dia ucapkan karena muter-muter.

    "Apa maksud bahwa bersemayam (baca: istawa) memiliki makna luas seperti salah satunya berkuasa?" Saya sepertinya bertanya seperti ini. Namun intinya mendekati pertanyaan ini.

    Lalu dia menjelaskan, kurang lebih, bahwa "Kalau Allah menguasai atas Arsy berarti Allah duduk, berdiri, dan lainnya karena makna menguasai itu luas. Tidak mungkin Allah menguasai sesuatu namun tidak menempati seperti duduk, bediri atau lainnya"

    Padahal maksud me-nakwil-kan "Allah Ber-Istiwa Atas Arsy" dengan kalimat, "Allah Berkuasa Atas Arsy" adalah agar tidak membuat penjelasan panjang lebar mengenai makna "ISTIWA". Jangan memaknai ISTIWA dengan unsur kemakhlukan. CUkup menyerahkan makna pada Allah atau menakwili ISTIWA dengan kata BERKUASA. Selesai. Padahal simpel kalau dia tidak meyakini makna teks ayat benar-benar sesuai teks. Namun mereka sendiri, membuat jawaban atas pertanyaan, "Allah Ada Dimana?" dengan jawaban yang mengandung unsur kemakhlukan. INI AQIDAH YANG SESAT!

    Saya tidak paham apa sebenarnya dengan akidah dia. Mungkin dia karena tidak tahu saja mengenai hakekat aqidah yang benar - korban rayuan dakwah anti Asy'ariah. Semoga dia menyadari bahwa akidahnya memang sesat dan berbahaya.

    AKIDAH HAQ: Allah tidak bertempat sebelum menciptakan tempat, Allah tidak bertempat dan tidak membutuhkannya walau sudah menciptakan tempat dan Allah tetap tidak bertempat walau tempat itu sudah tidak ada. Allah ada dan berdiri sendiri dengan kuasanya tanpa membutuhkan ciptaan apapun.

    SALAM ASWAJA ASY'ARIYAH

    Sumber: Lubab Mutiara Pengajar, Klik disini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahlus sunnah itu tidak menolak sifat Allah. Ketika Allah mengatakan "istiwa" kita tidak boleh menolaknya dengan alasan mensucikan Allah dan menggantinya dengan "istawla" (menguasai). Kita katakan saja Allah istiwa sesuai dengan keagungan dan kesucianNya.
      Dengan meyakini Allah istiwa bukan berarti kita menyerupakan.

      Hapus
    2. @Ubay Author...
      Ass...
      "ALLAH ADA DIMANA"??
      Tidak akan pernah ada yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan 100% benar...
      Karena pertanyaanNya saja sudah salah dan merupakan bentuk dari Keraguan Hati dan Iman si Penanya kepada kebesaran ALLAH...
      Cukuplah Bagi kita Meyakini Dan mengimani Bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain ALLAH SWT...
      Dan Cukuplah Bagi kita meyakini dan mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah utusan ALLAH SWT...
      ALLAH SWT Bukan untuk diperdebatkan... terlebih lagi Keberadaan-Nya... tapi ALLAH SWT itu harus diyakini dan Imani keberadaan dan kekuasaan-Nya bukan diperdebatkan... Wajah Rasulullah saja kita tidak tahu bagaimana Rupa beliau PADAHAL beliau juga ciptaan ALLAH SWT. Apalagi untuk mendebatkan keberadaan ALLAH SWT... Tentu saja otak dsn pikiran kita tidak akan mampu untuk mencari jawaban yg benar2 100% benar... Hanya ALLAH SWT yang tahu hal itu...

      Hapus
  5. buat yang nulis, kenapa nggak suratin aja langsung ust. Idris Ramli nya... atau minta ketemu... kalau berani loh... hehe... maaf lahir batin ya...

    BalasHapus
  6. setuju . buat yang nulis suratin aja ustd Idsrus Ramli

    BalasHapus
  7. Berani ga tuh min.. Tantang ust idrus ramli.. Mudzakarah... jangan merasa paling benar lah.. Sedikit2 bidah... Kafir.. Jangan takfiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yang dituliskan di sini hanya sekedar ingin meluruskan saja dan dalam rangka nasihat menasihati. Sama sekali tidak dalam rangka untuk membid'ahkan, merasa paling benar apalagi mengkafirkan.

      Hapus
    2. Aneh bgt nih komen, dibilang sedikit2 bidah.
      Ust ente tuh yg bidah, orang dikasih kesempatan dia bilang kaga dikasih kesempatan, orangnya sendiri aja bilangnya sengaja diem. Allah yahdik...

      Hapus
    3. Aneh bgt nih komen, dibilang sedikit2 bidah.
      Ust ente tuh yg bidah, orang dikasih kesempatan dia bilang kaga dikasih kesempatan, orangnya sendiri aja bilangnya sengaja diem. Allah yahdik...

      Hapus
  8. jangan ketemu ama dia berbahaya.... ntar kalau idrus g bisa jawab ngeles lagi. ngelesnya kecapean marah dech abis itu caci maki dah... hehe...

    BalasHapus
  9. Kalo yang ditulis admin benar demikian, sangat disayangkan sekali sikap beliau (ustadz Ramli) sebab tujuan dialog itu bukan untuk menang kalah... tapi mencari jalan benar untuk menuntun umat kelak. kalo cuma debat untuk menang, buat apa?

    Kalo seandainya yg di tulis admin tidak benar, harap ber-istighfar dan mohon ampun pd allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa yang saya tulis bukanlah sesuatu yang bohong, dan tidak juga sedang menjelekan seseorang, akan tetapi itu hanyalah sekedar menanggapi apa yang ditulis oleh Ustadz Idrus Ramli di website beliau, dan dalam tulisan di atas, saya sudah mencantumkan link langsung ke website tersebut. Antum dapat mengeceknya sendiri kesana.

      Hapus
  10. BAGI USTADZ yang suka berdebat siapapun n dimananpun. Ini nomer Hp saya. 081803639169
    Saya Hanya bertujuan Baik yaitu MEMBUNGKAM PERDEBATAN DAN PERBEDAAN DENGAN CARA YANG BIJAK... karena apapun alasannya Perdebatan hanya akan memecah belah umat dan menghancurkan. Membuat bingung umat.. Hati2 bagi para ustadz yang suka berdebat apalagi sampai mengkafirkan dan menyesatkan sesama. Baik itu Aswaja, NU, Sallafy atau apapun namanya... bohong jika ustadz itu berdebat hanya untuk sesuatu yg baik... karena ustadz juga manusia ingin selalu menang dalam setiap perdebatannya dengan cara menjatuhkan lawan debatnya sehingga pikiran mereka yg berdebat selalu terdoktrin dengan pendapatnya sendiri tanpa mau mendengarkan dan menerima pendapat orang lain walaupun itu benar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Afwan.. apa ini Termasuk debat Ibnu Abbas dg Kaum Khawarij waktu itu?

      Hapus
    2. Afwan.. apa ini Termasuk debat Ibnu Abbas dg Kaum Khawarij waktu itu?

      Hapus
  11. Setiap Aliran adakalanya mempunyai pendapat yg benar untuk di ikuti adakalanya pendapatnya salah dan harus diperbaiki lagi. Baik itu dari Aliran NU, Sallafy, Aswaja atau apapun namanya. Sebagai muslim yang bijak kita harus pandai memilah dan memilih... bila tidak sesuai dengan Rasulullah tinggalkan dan bila sesuai maka jalankan. Kenapa mesti repot2 dan berdebat... dapat apa dari perdebatan... hanya kehancuran yg di dapati... tidak ads lagi Ukhuwah islamiyah. Umat islam akan semakin hancur, mundur dan terbelah.. Kenapa tidak bersatu dan saling menghargai dengan mengkesampingkan ego masing2?? Jika tidak percaya silahkan hubungi atau sms no di atas. Membuka Mata dan Hati Agar tidak selalu berdebat dan saling menyalahkan... karena semua pendapat dari kalangan apapun tidak ada yg 100% benar. Karena yang bisa 100% benar hanya ALLAH SWT.

    BalasHapus
  12. Bagi sahabat admin terima kasih untuk tambahan ilmu nya semoga menjadi berkah dan manfaat... amin...
    salam Ukhuwah islamiyah

    BalasHapus
    Balasan
    1. By Bang H.Rhoma Irama...
      Tuhan kita sama...
      Nabi kita sama...
      Qur,an Kita sama...
      Kiblat kita sama...
      Mengapa harus saling mengkafirkan....?????
      Daripada nonton ustadz yang berdebat dan bisa memecah belah umat... mending kita Nonton konser Bang H.Rhoma Irama yang berdakwah lewat Lagu... bisa adem n tentram tanpa memecah belah umat...

      Hapus
  13. Apa orang indonesia semuanya ahli bid'ah... kan bahasa indonesia bukan bahasa arab. saya berdo'a dalam hati pakai bahasa Indonesia bahkan banyak muslim Indonesia tdk pandai bahasa arab.

    BalasHapus
  14. Untuk kaedah pembid'ahan bisa merujuk:
    https://tulisansulaifi.wordpress.com/2016/10/28/sunnah-tarkiyah-dan-bidah-idhafiyah-menurut-ulama-syafiiyah/
    barakallah fiikum

    BalasHapus
  15. Ane menantang mubahalah Firanda.
    Jika syi'ah Ali itu kafir maka ane akan mati secepat-cepatnya dalam kondisi yang menyedihkan sedang bila syi'ah Ali itu pengikut Kanjeng Nabi Muhammad SAWW maka ente, Firanda, akan mati secepatnya dalam kondisi yang mengenaskan.
    Aminkan Wahai pemuja Muawiyah la.

    BalasHapus