Senin, 28 Januari 2013

'Aqidah Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah

Beliau adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib, Abu Ja’far Ath-Thabari. 
Salah seorang ulama tafsir yang masyhur dari kalangan ulama salaf. 
Beliau adalah penyusun kitab Tafsir Al-Quran yakni kitab Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil ayil-Quran.(1)
Lahir pada tahun 224 atau 225 H dan wafat pada tahun 310 H.
Diantara guru2 ibnu Jarir rahimahullah yang paling masyhur diantaranya adalah Abu Kuraib, Ahmad bin Mani’, Muhammad bin Al-Mutsanna, Ya’qub bin Ibrahim dan yang lainnya yang juga merupakan guru2 dari imam Al-Bukhari rahimahullah dan imam Muslim rahimahullah.

Tentang ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah ini, maka Abu Bakar Al-Khatib rahimahullah mengatakan :
فكان حافظا لكتاب الله، بصيرا بالمعاني، فقيها في أحكام القرآن، عالما بالسنن وطرقها: صحيحها وسقيمها ناسخها ومنسوخها عارفا بأحوال الصحابة والتابعين 
“Beliau (Ibnu Jarir rahimahullah) adalah seorang yang hafizh dalam kitab Allah, mengetahui makna2 Al-Quran, memahami hukum2 Al-Quran, ‘alim dalam hadits dan jalan2nya, mengetahui ke-shahihan dan kelemahan hadits, nasikh-nya dan mansukh-nya, mengetahui hal ihwal tentang sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in.”
(Tadzkiratul-Huffazh 2/201) 

Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan :
وهو أبو جعفر محمد بن جرير الطبرى الإمام المشهور، مجتهد 
“Beliau adalah Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari seorang imam yang masyhur, seorang mujtahid.”
(Tahdzibul-Asma wal-Lughat 3/117)

Adapun, perkataan dan keyakinan beliau dalam beberapa permasalahan 'aqidah ini diantaranya adalah :


1. Tentang Qadar
‘Aqidah beliau dalam masalah qadar ini adalah sebagaimana yang dipegang oleh para imam Ahlus-Sunnah, yakni bahwa qadar baik dan buruk itu adalah dari Allah. 
Hal ini sebagaimana tampak dalam perkataan2 beliau dalam masalah ini.
Diantaranya, Al-Imam ibnu Jarir rahimahullah pernah mengatakan dalam tafsir beliau atas firman Allah : “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (Q.S At-Taghabun ayat 11):
يقول تعالى ذكره : لم يصب أحدًا من الخلق مصيبة إلا بإذن الله ، يقول : إلا بقضاء الله وتقدير ذلك عليه.
“Allah mengatakan bahwa tidaklah satu musibahpun yang menimpa kepada makhluk-Nya kecuali itu adalah dengan se-izin Allah, Dia mengatakan : “Kecuali dengan ketetapan Allah dan telah ditakdirkan hal itu untuknya.” 
(Jami’ul-Bayan 23/421)


2. Tentang iman
‘Aqidah beliau dalam hal ini adalah sebagaimana ‘aqidahnya para imam ahlus-Sunnah yang lain yakni bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dan iman itu bertambah serta berkurang.
Al-Imam ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :
وأما القول في الإيمان هل هو قول وعمل وهل يزيد وينقص أم لا زيادة فيه ولا نقصان فإن الصواب فيه قول من قال هو قول وعمل يزيد وينقص
“Adapun perkataan tentang iman, yakni apakah iman itu perkataan dan perbuatan, dan apakah iman itu dapat bertambah dan berkurang, ataukah iman itu tidak ada penambahan padanya dan tidak pula ada pengurangan?
Maka yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dan ia dapat bertambah serta berkurang.” 
(Sharih as-Sunnah hal. 35)


3. Tentang Al-Quran adalah kalam Allah dan bukan makhluq
Dalam hal ini pula, ‘aqidah beliau adalah sebagaimana ‘aqidahnya para imam ahlus-Sunnah yang lainnya yakni bahwa Al-Quran itu adalah kalam Allah dalam segala halnya dan bukan makhluk.
Al-Imam ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :
فالصواب من القول في ذلك عندنا أنه كلام الله غير مخلوق.........
وهو قرآن واحد من محمد  صلى الله عليه وسلم مسموع في اللوح المحفوظ مكتوب وكذلك هو في الصدور محفوظ وبألسن الشيوخ والشباب متلو
“Yang benar dalam hal ini bagi kami adalah yang mengatakan bahwa Al-Quran itu adalah kalam Allah dan bukan makhluq….
Dan ia adalah Al-Quran yang satu, yang diperdengarkan melalui lisan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang tertulis di Lauh Mahfuzh, dan begitupula yang terjaga di dalam dada2 (para huffazh), dan yang dibacakan oleh lisannya para syaikh dan para pemuda.”
(Sharih as-Sunnah hal. 24-25)

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
ليسمع كلام الله منك وهو القرآن الذي أنزله الله عليه
“…Untuk mendengarkan kalam Allah yang engkau bacakan, dan kalam Allah itu adalah Al-Quran yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya.”
(Jami’ul-Bayan 14/138)


4. Tentang Allah dan ‘Arsy
Beliau menyepakati ‘aqidahnya para imam Ahlus-Sunnah dari kalangan ulama2 salaf rahimahumullah bahwa Allah itu ada di atas ‘Arsy, di atas langit-Nya yang tujuh.
Al-Imam ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :
وهو شاهد لكم أيها الناس أينما كنتم يعلمكم ، ويعلم أعمالكم ، ومتقلبكم ومثواكم ، وهو على عرشه فوق سمواته السبع
“Dia menyaksikan kalian semua, wahai manusia, di manapun kalian berada, maka Allah mengetahuinya, dan Dia juga mengetahui perbuatan-perbuatanmu, membolak-balik kalian dan menempatkan kalian, sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy-Nya, di atas langit-Nya yang tujuh.”
(Jami’ul-Bayan 23/169)


5. Tentang melihat Allah kelak di akhirat
Masalah ini adalah salah satu ijma' yang dipegang oleh para ulama salaf rahimahumullah, dan inilah pula yang menjadi 'aqidahnya ibnu Jarir rahimahulllah.
Al-Imam ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :
وأما الصواب من القول في رؤية المؤمنين ربهم عز وجل يوم القيامة وهو ديننا الذي ندين الله به وأدركنا عليه أهل السنة والجماعة فهو أن أهل الجنة يرونه على ما صحت به الأخبار عن رسول الله  صلى الله عليه وسلم      
“Adapun yang benar dari pendapat tentang melihatnya orang2 mu’min kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla di hari kiamat, dan itu merupakan agama kami yang kami beragama dengannya kepada Allah, dan kami ketahui Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah berpendapat dengannya adalah bahwa ahli surga akan melihat Allah sebagaimana khabar shahih yang datang dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”
(Sharih as-Sunnah hal.27)

Kemudian beliau menyebutkan salah satu hadits shahih yang berkenaan dalam masalah ini yaitu sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
انكم راءون ربكم عز وجل كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤيته فإن استطعتم أن لا تغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها فافعلوا
“Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian ‘Azza wa Jalla, sebagaimana kalian melihat bulan ini, tidaklah kalian kesulitan dalam melihatnya. Maka kalau sekiranya kalian mampu dan tidak keberatan untuk mendirikan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya (yakni shalat ashar dan shubuh), maka lakukanlah.”(2)
(Sharih as-Sunnah hal.27)


6. Tentang sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
Al-Imam ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :
فأفضل أصحابه  صلى الله عليه وسلم  الصديق أبو بكر رضي الله عنه ثم الفاروق بعده عمر ثم ذو النورين عثمان بن عفان ثم أمير المؤمنين وإمام المتقين علي بن أبي طالب رضوان الله عليهم أجمعين   
“Maka yang paling utama diantara sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah ash-Shidiq Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu, kemudian setelahnya adalah Al-Faruq ‘Umar (bin Al-Khathab) radhiyallaahu ‘anhu, kemudian Dzun-Nurain (pemilik dua cahaya) ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu, kemudian Aimrul-Mu’minin dan imamnya orang2 bertaqwa ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallaahu ‘anhu, semoga Allah ridha kepada beliau semuanya.”
(Sharih as-Sunnah hal.32)

Beliau rahimahullah juga mengatakan dalam tafsir beliau atas firman Allah “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.”(Q.S Al-Hadid ayat 10) :
وقوله : ( وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى ) يقول تعالى ذكره : وكلّ هؤلاء الذين أنفقوا من قبل الفتح وقاتلوا ، والذين أنفقوا من بعد وقاتلوا ، وعد الله الجنة بإنفاقهم في سبيله ، وقتالهم أعداءه
“Dan firman Allah : “Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik.”, maka Allah menyebutkan bahwa semua (sahabat) yang ber-infaq dan berperang sebelum Fathu Mekkah, dan juga semua yang ber-infaq dan berperang sesudah Fathu Mekkah, maka Allah menjanjikan kepada mereka surga disebabkan infaq mereka dan peperangan mereka di jalan Allah.” 
(Jami’ul-Bayan 23/177)


7. Tentang turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam
Dalam hal ini, 'aqidah beliau juga menyepakati 'aqidahnya ulama2 salaf rahimahumullah yakni bahwa Nabi 'Isa 'alaihissalaam akan turun kelak menjelang kiamat, dan beliau-lah yang akan membunuh Ad-Dajjal.
Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan :
الذي أرسل رسوله محمدا صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّم بالبيان الواضح ، وَدِين الحَق ، وهو الإسلام; الذي أرسله داعيا خلقه إليه( لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ ) يقول : ليبطل به الملل كلها ، حتى لا يكون دين سواه ، وذلك كان كذلك حتى ينزل عيسى ابن مريم ، فيقتل الدجال
“Allah yang mengutus rasul-Nya Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa penjelasan yang terang, dan agama yang hak yaitu Islam……………………….
Untuk membatalkan semua milah yang ada sehingga tidak ada lagi agama selain Islam. 
Dan keadaan seperti ini terus berlangsung sampai munculnya ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalaam, sehingga beliau membunuh Ad-Dajjal.”(3)
(Jami’ul-Bayan 22/260)






Note :
(1) Tentang kitab Tafsir ibnu Jarir rahimahullah ini, terdapat banyak pujian dari para ulama, diantaranya :
Abu Bakar al-Khatib rahimahullah mengatakan :
وله كتاب التفسير الذي لم يصنف مثله،
“Ibnu Jarir rahimahullah memiliki kitab Tafsir yang tidak pernah ada kitab yang disusun semisalnya.” 
(Tadzkiratul-Huffazh 2/201) 

Imam As-Suyuthi rahimahullah mengatakan :
وله التصانيف العظيمة منها " تفسير القرآن " وهو أجلّ التفاسير،لم يؤلَّف مثله كما ذكره العلماء
“Beliau memiliki karangan2 yang banyak, diantaranya adalah Tafsir Al-Quran, dan itu adalah kitab Tafsir yang paling besar nilainya. Tidak pernah ada yang menyusun kitab tafsir yang sepertinya, sebagaimana dikatakan oleh para ulama.”
(Thabaqat Al-Mufasirin no.93)

(2) Hadits ini diriwayatkan pula oleh imam Muslim rahimahullah dalam kitab Shahih-nya dari Zuhair bin Harb dengan sanad yang semisal. (1/439 no.633)

(3) Kabar tentang turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissallam dan keluarnya Ad-Dajjal dan bahwa ad-Dajjal ini nanti akan dibunuh oleh Nabi ‘Isa  ‘alaihissalaam, maka kabar2 ini telah datang dalam hadits2 yang shahih tsabit yang diriwayatkan oleh banyak sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan para ulama mengatakan bahwa hadits2nya mencapai derajat mutawatir.
Salah satu diantaranya sebagaimana diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi rahimahullah, beliau berkata :
حدثنا قتيبة حدثنا الليث عن ابن هشاب أنه سمع عبيد الله بن عبد الله بن ثعلة الأنصاري يحدث عن عبد الرحمن بن يزيد الأنصاري من بين عمرو بن عوف يقول سمعت عمي مجمع بن جارية الأنصاري يقول سمعت رسول تالله صلى الله عليه و سلم يقول يقتل ابن مريم الدجاب بباب لد
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Laits dari ibnu Syihab, bahwa dia mendengar ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin Tsa’labah al-Anshari menceritakan dari ‘Abdurrahman bin Yazid al-Anshari dari Bani ‘Amru bin ‘Auf mengatakan : “Aku mendengar pamanku Mujami’ bin Jariyah al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu mengatakan : “Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“’Isa bin Maryam akan membunuh ad-Dajjal di pintu Ludd.”
(Sunan At-Tirmidzi 4/515 no.2244. Imam At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan : “Ini adalah hadits hasan shahih.”)

Dan ‘aqidah tentang turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam ini juga merupakan ‘aqidahnya sahabat2 Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata :
انى لأرجو ان طالت بي حياة ان أدرك عيسى بن مريم عليه السلام فإن عجل بي موت فمن أدركه فليقرئه منى السلام
“Sesungguhnya jika umurku panjang, aku sangat berharap dapat berjumpa dengan 'Isa bin Maryam 'alaihissalaam….”
(Musnad Ahmad 2/298 no.7958. Syaikh Syu’aib rahimahullah mengatakan bahwa atsar ini : “Isnadnya shahih atas syarat Bukhari dan Muslim)

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum, Subhanallah. Sungguh bermaklumat & bagus dari segi susunan artikel. Saya nak tanya apa nama rujukan2 artikel d atas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumussalaam warahmatullah...
      Rujukan utama untuk artikel di atas sudah dicantumkan langsung pada tulisannya pak, yaitu dari kitab Jami’ul-Bayan ‘an Ta’wil ayil-Quran dan Sharih as-Sunnah yang merupakan karya dari Ibnu Jarir rahimahullah sendiri.

      Hapus