Jumat, 15 Agustus 2014

Kegembiraan seusai shalat


Pernahkah kita melaksanakan shalat kemudian setelah shalat itu selesai, maka tidak ada sedikitpun yang berubah dari diri kita?
Tidak ada kegelisahan yang berubah menjadi ketenangan dan tidak ada kemurungan yang berubah menjadi kegembiraan?

Mungkin tidak pernah....
Atau mungkin pernah....
Atau mungkin.....malah........sering?

Jika tidak pernah, maka alhamdulillah, segala puji hanyalah bagi Allah.
Tapi, jika pernah, maka berhati-hatilah, sebab boleh jadi, shalat itu sebentar lagi akan menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi bagimu.
Dan jika sering, maka menangislah, sebab itu berarti engkau sedang tertimpa musibah yang besar.

Duhai hamba Allah, tidakkah engkau tahu bahwa Allah telah berfirman :
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ 
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'."
(Q.S Al-Baqarah ayat 45)

Bukankah engkau berdo'a dalam shalatmu : "Tunjukilah kami ke jalan yang lurus."?(1)
Bukankah engkau berdo'a dalam shalatmu : "Ya Allah, ampunilah dosaku, rahmatilah aku, penuhilah (kebutuhan)ku tunjukilah aku dan berilah aku rezeki."(2)

Maka, bagaimana mungkin seseorang yang sudah meminta pertolongan kepada Allah tentang hidupnya, rejekinya, dan yang lainnya masih tetap merasa gelisah dan murung?
Bahkan, bukankah seharusnya ia merasa gembira karena sudah meminta tolong kepada Allah dan berharap dengan sepenuh hati bahwa Allah akan menolongnya?

Duhai hamba Allah, tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :
 أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا 
“Bagaimana menurut kalian jika sekiranya di depan pintu rumah salah seorang dari kalian terdapat sungai kemudian dia mandi di sungai itu lima kali sehari? Apakah masih ada kotoran yang melekat di badannya?”
Para sahabat radhiyallaahu ‘anhum menjawab : “Tidak akan ada kotoran sedikitpun yang tersisa padanya.”
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam lalu bersabda : “Maka seperti itulah perumpamaan shalat lima waktu. Dengannya Allah akan menghapuskan kesalahan2 .”

(Shahih al-Bukhari 1/112 no.528)

Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang telah dijanjikan akan dihapuskannya dosa2nya disebabkan shalat itu masih tetap merasa gelisah dan murung?
Bahkan, bukankah seharusnya ia merasa gembira dengan jaminan ampunan dosa dari Allah ini?

Duhai hamba Allah, tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :
من صلى البردين دخل الجنة
"Barangsiapa yang shalat pada dua waktu dingin, akan masuk surga."
(Shahih Muslim 1/440 no.635)

Maka, bagaimana mungkin seseorang yang sudah dijanjikan surga untuknya masih tetap merasa gelisah dan murung?
Bahkan, bukankah seharusnya ia merasa gembira dengan jaminan surga ini?

Duhai hamba Allah, tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :
 لن يلج النار أحد صلى قبل طلوع الشمس وقبل غروبها يعني الفجر والعصر
"Tidak akan masuk neraka seseorang yang melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, yakni shalat Fajr dan 'Ashr."
(Shahih Muslim 1/440 no.634)

Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang telah dijanjikan akan dihindarkan dari neraka disebabkan shalat itu masih tetap merasa gelisah dan murung?
Bahkan, bukankah seharusnya ia merasa gembira dengan janji ini?

Duhai hamba Allah, tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa Allah telah berfirman:
قسمت الصلاة بين وبين عبدي نصفين ولعبدي ما سأل فإذا قال العبد الحمد لله رب العالمين قال الله تعالى حمدني عبدي وإذا قال الرحمن الرحيم قال الله تعالى أثنى علي عبدي وإذا قال مالك يوم الدين قال مجدني عبدي ( وقال مرة فوض إلى عبدي ) فإذا قال إياك نعبد وإياك نستعين قال هذا بيني وبين عبدي ولعبدي ما سأل فإذا قال اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين قال هذا لعبدي ولعبدي ما سأل   
“Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan apa yang dia minta.” 
Jika hamba-Ku berkata: “Alhamdulillaahi rabbil-'aalamiin”, Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.”
Jika ia mengatakan: “Ar-rahmaanir-rahiim.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memuja-Ku.”
Jika ia mengatakan: “Maaliki yaumiddiin.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memuliakan-Ku.”
Jika ia mengatakan: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin.” Allah berfirman: “Inilah bagian-Ku dari hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku maka ia akan memperoleh yang ia minta.”
Jika ia berkata: “Ihdinash-shiraathal mustaqiim, shiraathalladziina an’amta 'alaihim, ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh-dhaalliin.” Allah berfirman: “Ini bagian untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
(Shahih Muslim 1/296 no.395)

Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang selesai "berdialog" secara tidak langsung dengan Allah masih tetap merasa gelisah dan murung?
Tidakkah seharusnya ia merasa gembira?
Tidakkah seharusnya ia merasa gembira?
Duhai hamba Allah, tidakkah seharusnya engkau merasa gembira? 

So, apakah kita masih akan tetap gelisah dan merasa murung seusai melaksanakan shalat setelah semua kebaikan dan keutamaan yang Allah janjikan di dalam shalat tersebut?

Ah....sepertinya tidak akan pernah lagi.



Note :
(1) Surat Al-Fatihah ayat 6
(2) Diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam kitab Sunan-nya dari haditsnya ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhu bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca diantara dua sujudnya :
اللهم اغفر لي وارحمني واجبرني واهدني وارزقني
(Sunan At-Tirmidzi 2/76 no.284. Tentang riwayat ini, maka Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan : "Shahih.")
(3) Maksud dari shalat pada dua waktu dingin ini adalah shalat Subuh dan 'Ashr. Dikatakan juga bahwa maksudnya adalah shalat Subuh dan 'Isya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar